Tinggal bagaimana media mampu mengolahnya dengan bijak, agar tidak berhenti pada visualisasi, tapi menyentuh makna.
Media sering menjadi guru bagi masyarakat, tapi kini saatnya media belajar dari pesantren.
Belajar tentang kesabaran, kejujuran, dan keseimbangan antara berita dan kebenaran.
Karena pesantren tidak hanya memproduksi ilmu, tapi juga memelihara nurani.
Jika media mampu menyelami nilai-nilai itu, mungkin publik akan mengenal pesantren bukan sebagai “yang lain”, tapi sebagai bagian dari dirinya sendiri.
Doa untuk Ilmu dan Kebijaksanaan
لَّهُمَّ ارْزُقْنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَعَيْنًا دَامِعَةً، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا.
Allāhumma arzuqnā ‘ilman nāfi‘an, wa qalban khāshi‘an, wa ‘ainan dāmi‘atan, wa ‘amalan mutaqabbalan.
Baca Juga: Menahan yang Tak Perlu: Cara Puasa Sunnah Menjernihkan Hati dan Pikiran
Artinya:
Ya Allah, karuniakan kepada kami ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyuk, mata yang mudah menangis karena cinta-Mu, dan amal yang Engkau terima.
Doa ini menjadi simbol bahwa ilmu dan kebenaran tak cukup disiarkan, tapi harus dihayati.
Menonton pesantren dari layar memang mudah. Namun memahami pesantren dari hati, membutuhkan kesediaan untuk duduk, mendengar, dan merendah.
Kamera mungkin hanya menangkap santri yang tertawa, tapi tak bisa merasakan doa mereka di sepertiga malam. Kamera bisa menyorot kitab kuning, tapi tak bisa mencium harumnya perjuangan ilmu di balik lembarannya.
Karena itu, IFA.id mengingatkan:
Pesantren bukan tontonan, tapi tuntunan.
Dan tugas media bukan hanya menyiarkan, tapi menyalurkan hikmah agar tetap hidup dalam masyarakat.
Baca Juga: Larangan Santri Keluar Tanpa Izin: Bentuk Pengendalian Diri yang Mulia
Artikel Terkait
Dari Ngaji ke Adab: Bagaimana Larangan di Pesantren Mendidik Jiwa Tangguh
Misteri Larangan Tidur Pagi di Pesantren: Antara Disiplin dan Barokah
Hening yang Menyapa Langit: Saat Puasa Sunnah Menjadi Doa yang Tak Terucap