Kiai tidak hanya mengajarkan fiqih dan tafsir, tapi juga etika berpikir, tanggung jawab sosial, dan cinta tanah air. Namun sayangnya, sisi-sisi itu jarang muncul di televisi.
Dalam dunia jurnalistik, istilah framing berarti bagaimana suatu realitas dikonstruksi agar terlihat dengan cara tertentu.
Baca Juga: Ketika Pesantren Jadi Konten: Trans7 dan Krisis Representasi Budaya Islam
Ketika televisi menampilkan pesantren dengan nuansa religius tapi mistik, publik akan mengingat pesantren sebagai tempat “aneh tapi menarik.”
Bukan sebagai pusat peradaban yang hidup.
IFA.id mencatat bahwa krisis pemahaman ini bukan semata kesalahan media, tapi juga akibat jarak antara pesantren dan industri media.
Banyak jurnalis yang tidak pernah hidup di pesantren, tidak memahami adab keilmuan, sehingga yang mereka tangkap hanyalah kulit luarnya.
Mungkin niatnya baik ingin memperkenalkan pesantren ke publik luas.
Tapi tanpa pendalaman budaya, hasilnya justru melahirkan kesalahpahaman massal.
Televisi tidak mampu menangkap aroma kitab kuning yang sudah lusuh karena sering dibaca.
Ia tidak bisa menyiarkan rasa dingin fajar ketika santri bangun untuk tahajud.
Ia tidak tahu rasanya makan bersama di dapur sederhana sambil tertawa menertawakan lelah.
Baca Juga: Senin-Kamis, Puasa Nabi: Amalan Ringan, Pahala Tak Terbatas
Hal-hal seperti itu tak bisa direkam, hanya bisa dihidupi.
Pesantren mengajarkan ilmu, tapi lebih dari itu: ia mengajarkan cara menjadi manusia.
Ilmu yang tidak menjadikan seseorang sombong, doa yang tidak membuat orang merasa suci, dan kerja keras yang tidak menghapus keikhlasan.
Kamera bisa merekam gambar, tapi tidak bisa merekam barokah.
Di zaman serba digital, apa pun bisa viral. Tapi pesantren tidak diciptakan untuk menjadi viral.
Kiai mengajar bukan untuk ditonton, tapi untuk diteruskan. Santri belajar bukan untuk jadi konten, tapi untuk menjadi amal jariyah.
Namun IFA.id melihat sisi positifnya juga: tayangan-tayangan itu bisa menjadi pintu awal bagi masyarakat yang belum mengenal pesantren.
Baca Juga: Puasa Sunnah: Latihan Rahasia untuk Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri
Artikel Terkait
Dari Ngaji ke Adab: Bagaimana Larangan di Pesantren Mendidik Jiwa Tangguh
Misteri Larangan Tidur Pagi di Pesantren: Antara Disiplin dan Barokah
Hening yang Menyapa Langit: Saat Puasa Sunnah Menjadi Doa yang Tak Terucap