Kamis, 4 Juni 2026

Menonton Pesantren dari Layar: Apa yang Hilang dari Tayangan Televisi?

- Sabtu, 18 Oktober 2025 | 15:14 WIB
Dari layar, kita hanya melihat pesantren sebagai tayangan—padahal di sana ada napas ilmu, adab, dan cinta yang tak bisa ditransmisikan oleh kamera. (Foto/Ilustrasi)
Dari layar, kita hanya melihat pesantren sebagai tayangan—padahal di sana ada napas ilmu, adab, dan cinta yang tak bisa ditransmisikan oleh kamera. (Foto/Ilustrasi)

Kiai tidak hanya mengajarkan fiqih dan tafsir, tapi juga etika berpikir, tanggung jawab sosial, dan cinta tanah air. Namun sayangnya, sisi-sisi itu jarang muncul di televisi.

Dalam dunia jurnalistik, istilah framing berarti bagaimana suatu realitas dikonstruksi agar terlihat dengan cara tertentu.

Baca Juga: Ketika Pesantren Jadi Konten: Trans7 dan Krisis Representasi Budaya Islam

Ketika televisi menampilkan pesantren dengan nuansa religius tapi mistik, publik akan mengingat pesantren sebagai tempat “aneh tapi menarik.”
Bukan sebagai pusat peradaban yang hidup.

IFA.id mencatat bahwa krisis pemahaman ini bukan semata kesalahan media, tapi juga akibat jarak antara pesantren dan industri media.

Banyak jurnalis yang tidak pernah hidup di pesantren, tidak memahami adab keilmuan, sehingga yang mereka tangkap hanyalah kulit luarnya.

Mungkin niatnya baik ingin memperkenalkan pesantren ke publik luas.
Tapi tanpa pendalaman budaya, hasilnya justru melahirkan kesalahpahaman massal.

Televisi tidak mampu menangkap aroma kitab kuning yang sudah lusuh karena sering dibaca.
Ia tidak bisa menyiarkan rasa dingin fajar ketika santri bangun untuk tahajud.
Ia tidak tahu rasanya makan bersama di dapur sederhana sambil tertawa menertawakan lelah.

Baca Juga: Senin-Kamis, Puasa Nabi: Amalan Ringan, Pahala Tak Terbatas

Hal-hal seperti itu tak bisa direkam, hanya bisa dihidupi.

Pesantren mengajarkan ilmu, tapi lebih dari itu: ia mengajarkan cara menjadi manusia.
Ilmu yang tidak menjadikan seseorang sombong, doa yang tidak membuat orang merasa suci, dan kerja keras yang tidak menghapus keikhlasan.

Kamera bisa merekam gambar, tapi tidak bisa merekam barokah.

Di zaman serba digital, apa pun bisa viral. Tapi pesantren tidak diciptakan untuk menjadi viral.
Kiai mengajar bukan untuk ditonton, tapi untuk diteruskan. Santri belajar bukan untuk jadi konten, tapi untuk menjadi amal jariyah.

Namun IFA.id melihat sisi positifnya juga: tayangan-tayangan itu bisa menjadi pintu awal bagi masyarakat yang belum mengenal pesantren.

Baca Juga: Puasa Sunnah: Latihan Rahasia untuk Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Terpopuler

X