Di tengah derasnya arus informasi, pesantren sebenarnya tak menolak publikasi.
Banyak kiai kini membuka diri terhadap media, asalkan liputan dilakukan dengan niat yang benar.
Bagi mereka, kamera bukan musuh, selama digunakan untuk mengenalkan nilai.
Beberapa pesantren bahkan mulai membangun media internal: buletin, kanal YouTube, hingga radio dakwah. Langkah kecil ini menunjukkan bahwa pesantren juga ingin bicara, bukan hanya dibicarakan.
Doa Penuntut Ilmu dan Penyampai Kebenaran
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
Allāhumma arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnā ittibā‘ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnā ijtinābah.
Artinya:
Ya Allah, tunjukkan kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkan kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.
Baca Juga: Hening yang Menyapa Langit: Saat Puasa Sunnah Menjadi Doa yang Tak Terucap
Doa ini menjadi penuntun bagi jurnalis Muslim dan siapa pun yang ingin menyampaikan kebenaran tanpa mencederai kehormatan.
Budaya pesantren bukan warisan masa lalu, tapi panduan masa depan. Ketika media gagal memahami, tugas kita bukan marah, tapi menjelaskan. Melalui narasi yang adil, santun, dan berimbang, wajah pesantren akan kembali bersinar bukan karena sensasi, tapi karena makna.
IFA.id percaya, media Islam sejati bukan hanya menyiarkan berita, tapi juga menyalakan cahaya.
Cahaya yang tak silau, tapi menuntun seperti lentera kecil di tengah derasnya arus informasi modern.
Baca Juga: Misteri Larangan Tidur Pagi di Pesantren: Antara Disiplin dan Barokah
Artikel Terkait
Larangan Pacaran di Pesantren: Bukan Soal Cinta, Tapi Soal Martabat
Dari Ngaji ke Adab: Bagaimana Larangan di Pesantren Mendidik Jiwa Tangguh