Kamis, 4 Juni 2026

Budaya Pesantren Disalahpahami: Di Mana Peran Media Islam?

- Sabtu, 18 Oktober 2025 | 12:57 WIB
Media bisa merekam pesantren, tapi hanya hati yang bisa memahaminya. Saat kamera menangkap citra, santri menanam makna. (Foto/Ilustrasi)
Media bisa merekam pesantren, tapi hanya hati yang bisa memahaminya. Saat kamera menangkap citra, santri menanam makna. (Foto/Ilustrasi)

Seharusnya, media Islam menjadi jembatan antara pesantren dan publik. Ia perlu menghadirkan wajah pesantren yang hidup: dinamis, berilmu, dan penuh kasih.

IFA.id memandang, tugas media Islam bukan sekadar melawan stigma, tapi juga mengajarkan cara baru memahami pesantren melalui jurnalisme yang beradab.

Kiai M. Zainuddin, pengasuh salah satu pesantren tertua di Jawa Tengah, pernah berkata kepada IFA.id: “Yang kami butuhkan bukan sorotan kamera, tapi sorotan hati. Karena dari sanalah ilmu itu berangkat.”

Ungkapan itu menjadi kritik lembut terhadap media yang sering datang sekadar mengambil gambar, bukan makna. Bagi para kiai, kamera bisa merekam aktivitas, tapi tidak bisa menangkap niat, adab, dan doa yang menjadi ruh pesantren.

Baca Juga: Puasa Sunnah: Latihan Rahasia untuk Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri

IFA.id percaya, tugas media bukan hanya memotret, tapi juga menafsir.
Dan tafsir yang benar hanya lahir dari pemahaman yang jujur terhadap nilai-nilai pesantren.

Salah satu kesalahan umum dalam pemberitaan adalah menganggap pesantren semata sebagai lembaga pendidikan agama. Padahal pesantren adalah ekosistem budaya tempat di mana bahasa, adab, musik, sastra, dan spiritualitas tumbuh berdampingan.

Pesantren melahirkan seni rebana, kitab kuning, tradisi khataman, dan budaya gotong royong yang melekat di desa-desa. Ketika media gagal menampilkan itu semua, maka hilanglah satu bagian penting dari wajah Islam Nusantara.

IFA.id mengingatkan bahwa pesantren bukan sekadar “sekolah”, tapi peradaban kecil yang membentuk bangsa.

Baca Juga: Menahan yang Tak Perlu: Cara Puasa Sunnah Menjernihkan Hati dan Pikiran

Kini, krisis itu semakin rumit. Bukan hanya televisi yang menampilkan pesantren secara keliru, tetapi juga media sosial.

Potongan video yang viral sering menghapus konteks: santri yang bercanda dianggap malas, kiai yang menegur disebut galak, padahal itu bagian dari pendidikan karakter.

Dunia digital mempercepat penyebaran kesalahpahaman.
Jika tidak segera dikoreksi, generasi muda akan mengenal pesantren hanya sebagai “konten lucu”, bukan sumber nilai.

IFA.id percaya, setiap klik, setiap tayangan, adalah bentuk dakwah.
Maka, dakwah digital yang bijak harus menghadirkan wajah pesantren yang sebenarnya: sederhana, tulus, dan berilmu.

Baca Juga: Larangan Santri Keluar Tanpa Izin: Bentuk Pengendalian Diri yang Mulia

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Terpopuler

X