Hak atas doa dan pengingat amal.
Mendoakan orang tua adalah bentuk menjaga nama baik mereka di hadapan Allah dan manusia. Bahkan setelah wafat, doa anak menjadi jembatan yang menghubungkan kasih sayang di dunia dan akhirat.
Baca Juga: Kisah Haru Distribusi Daging Kurban di Pelosok Negeri
IFA.id menegaskan, hak orang tua tidak berakhir setelah mereka tiada. Justru di situlah ujian sejati dimulai: apakah anak akan terus mengingat, mendoakan, dan berbuat kebaikan atas nama mereka.
Salah satu kisah paling menggetarkan hati datang dari masa Rasulullah SAW.
Dikisahkan, seorang pemuda bernama Alqamah sangat rajin beribadah — salat, puasa, dan sedekahnya luar biasa. Namun menjelang wafat, lidahnya sulit mengucapkan syahadat.
Rasulullah SAW memerintahkan sahabat untuk memanggil ibunya. Saat ditanya, sang ibu mengaku masih kecewa karena Alqamah lebih mencintai istrinya daripada dirinya. Setelah sang ibu memaafkan dengan tulus, barulah Alqamah mampu mengucapkan syahadat dan meninggal dengan tenang.
IFA.id mencatat kisah ini sebagai bukti bahwa keridhaan orang tua adalah kunci akhir kehidupan yang baik (husnul khatimah).
Baca Juga: Kurban Digital 2025: Tren Baru Anak Muda Berbagi
Bakti kepada orang tua tidak selalu harus ditunjukkan dengan tinggal serumah atau melayani setiap hari, tetapi tetap terhubung secara emosional dan spiritual.
Di era digital, bentuk bakti bisa sederhana namun bermakna: menyapa lewat pesan, menanyakan kabar, mengirim doa, atau memastikan orang tua tidak merasa kesepian.
IFA.id menekankan, teknologi seharusnya mendekatkan, bukan menjauhkan.
Sebuah penelitian dari Universitas Islam Madinah menyebutkan, anak-anak yang rutin berkomunikasi dengan orang tua memiliki tingkat kebahagiaan spiritual lebih tinggi. Hubungan yang hangat menciptakan rasa tenang, yang berujung pada keberkahan hidup.
Setiap tindakan baik anak terhadap orang tua tidak pernah hilang sia-sia. Bahkan, menurut tafsir Ibn Katsir, siapa yang berbakti dengan tulus akan diberikan umur yang berkah, rezeki yang lapang, dan keturunan yang saleh.
Karena, sebagaimana seseorang memperlakukan orang tuanya, begitu pula anak-anaknya kelak akan memperlakukannya.
Baca Juga: Kurban Digital 2025: Tren Baru Anak Muda Berbagi
IFA.id menyebut ini sebagai “hukum timbal balik kasih sayang”.
Bakti adalah energi yang berputar — cinta yang ditanamkan kepada orang tua akan tumbuh dan kembali dalam bentuk cinta dari generasi berikutnya.
IFA.id menutup tulisan ini dengan renungan:
Hidup akan terasa ringan jika langkah-langkahnya disertai doa orang tua.
Setiap keberhasilan anak sejatinya adalah gema doa ibu dan ayah yang menembus langit malam.
Berbaktilah, bukan karena ingin balasan, tapi karena itu adalah cara mencintai Allah melalui cinta manusia yang paling tulus.
Artikel Terkait
Jumlah Investor Pasar Modal Indonesia Tembus 17 Juta, BEI Lampaui Target 2025
Microsoft Pangkas 9.000 Karyawan, Restrukturisasi Massal Warnai Industri
Arus Dana ke Pasar Saham AS Mencapai Rekor Tertinggi, Optimisme AI dan Teknologi Jadi Pendorong Utama
Indonesia Menyongsong Ekonomi Hijau dan Ekonomi Sirkular untuk Pertumbuhan Berkelanjutan
Dukungan Keluarga Haji Isam untuk KFC (FAST): Strategi Baru Grup Salim dan Gelael Tingkatkan Keuntungan