2. Pentingnya Agama dan Kitab Suci
Jika kita mengakui adanya Tuhan, logis untuk berasumsi bahwa Sang Pencipta memberikan panduan kepada manusia. Seperti halnya perusahaan yang menyediakan buku panduan untuk produk buatannya, Tuhan yang menciptakan manusia pasti juga memberikan petunjuk tentang bagaimana menjalani kehidupan.
Sepanjang sejarah, manusia selalu mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendalam seperti: *Siapa aku? Dari mana asalku? Ke mana aku akan pergi? Apa tujuan hidup ini?* Mustahil Sang Pencipta membiarkan manusia tanpa panduan.
Dengan demikian, agama yang kita cari harus memiliki kitab suci sebagai panduan. Tahap ini mengeliminasi kepercayaan seperti Shintoisme, panteisme, dan nihilisme.
3. Peran Rasul sebagai Guru
Kitab suci saja tidak cukup. Seperti halnya buku pelajaran memerlukan guru untuk menjelaskan isinya, manusia juga memerlukan seorang rasul yang mengajarkan dan mencontohkan ajaran agama tersebut.
Analoginya dapat dilihat dalam koloni semut atau lebah yang memiliki pemimpin untuk mengarahkan mereka mencapai tujuan bersama. Jika Allah memberikan pemimpin kepada makhluk kecil seperti semut dan lebah, tentu Dia tidak akan membiarkan manusia tanpa pemimpin yang membimbing mereka.
Dengan tahap ini, agama-agama yang tidak memiliki konsep nabi atau rasul, seperti Hinduisme dan Cao Dai, dapat dieliminasi.
Tersisa Tiga Agama
Setelah menerapkan ketiga kriteria tersebut, tersisa tiga agama besar yang memenuhi syarat: Kristen, Yahudi, dan Islam. Ketiga agama ini memiliki konsep pencipta, kitab suci, dan utusan.
Namun, ada perbedaan penting. Islam mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir sekaligus menerima nabi-nabi sebelumnya, termasuk Musa dan Isa (Yesus). Sebaliknya, Yahudi dan Kristen tidak menerima Nabi Muhammad SAW sebagai utusan.
Keistimewaan Nabi Muhammad SAW
Salah satu bukti terkuat kebenaran Islam adalah kehidupan Nabi Muhammad SAW. Selama 40 tahun sebelum kenabiannya, beliau dikenal sebagai *Al-Amin* (yang terpercaya).
Setelah menjadi nabi, beliau hidup selama 23 tahun di tengah masyarakat yang terus mengawasinya.
Jika Nabi Muhammad SAW seorang pembohong, seharusnya kebohongan tersebut terungkap dengan cepat. Namun, tidak ada cacat moral yang ditemukan dalam dirinya, bahkan oleh musuh-musuhnya. Beliau menolak keuntungan duniawi, menghadapi ancaman pembunuhan, dan tetap teguh pada misinya.
Artikel Terkait
Ketahui Serangkai Keutamaan dan Amalan Isra Miraj yang Bisa Diterapkan
Hukum Melakukan Zikir Pagi dan Sore dalam Islam: Kebaikan, Manfaat, dan Penerapannya
Apa Hukum Membaca Doa Qunut dalam Salat? Pelajari Berdasarkan Madzhab dan Dalil Hadits Berikut
Persiapan Menjelang Bulan Ramadhan: Amalan yang Meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan
Mencari Motivasi Hidup dalam Cahaya Al-Qur'an dan Hadis: Dalil-Dalil yang Menginspirasi