IFA.id - Nabi Muhammad SAW makhluk istimewa yang menjadi kendaraan Nabi Muhammad SAW saat perjalanan Isra’ Mi’raj, salah satu peristiwa paling bersejarah dalam Islam. Kendaraan itu bernama buraq.
Peristiwa ini tercatat dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih, di mana Nabi Muhammad SAW diperjalankan Allah SWT dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, dan kemudian naik ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat lima waktu.
Buraq berasal dari kata "barq" yang berarti kilat. Sesuai dengan namanya, Buraq digambarkan sebagai makhluk yang bergerak secepat kilat. Dalam beberapa riwayat hadits, Buraq digambarkan sebagai makhluk yang lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bagal (peranakan kuda dan keledai). Buraq memiliki wajah cantik, badan berwarna putih, dan bersayap, sehingga memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh dengan sangat cepat.
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Anas bin Malik RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu seekor hewan putih, panjang, lebih besar dari keledai, tetapi lebih kecil dari bagal. Dia meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya.”_ (HR. Bukhari, no. 3207; Muslim, no. 164).
Perjalanan Isra’ dan Mi’raj
Isra’ Mi’raj adalah perjalanan dua fase yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.
1. Isra’ (Perjalanan Malam)
Isra’ adalah perjalanan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Dalam perjalanan ini, Nabi Muhammad SAW menggunakan Buraq sebagai kendaraannya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”_ (QS. Al-Isra: 1)
Nabi SAW memimpin shalat bersama para nabi terdahulu di Masjidil Aqsa sebelum melanjutkan perjalanan Mi’raj.
2. Mi’raj (Perjalanan ke Langit)
Setelah Isra’, Nabi Muhammad SAW dibawa naik ke langit oleh malaikat Jibril. Dalam perjalanan Mi’raj, Nabi SAW melewati tujuh lapis langit dan bertemu dengan para nabi seperti Nabi Adam, Nabi Isa, Nabi Musa, hingga Nabi Ibrahim. Akhirnya, Nabi SAW mencapai Sidratul Muntaha, tempat tertinggi di mana beliau menerima perintah shalat lima waktu langsung dari Allah SWT.
Perjalanan Isra’ Mi’raj memiliki makna mendalam bagi umat Islam. Berikut adalah beberapa hikmah yang dapat diambil:
Artikel Terkait
Keberkahan Bisnis dalam Islam
Pengelolaan Keuangan dalam Bisnis Islam
Peran Wakaf dalam Ekonomi Bisnis Islam
Bisnis yang Berorientasi pada Keberlanjutan dalam Islam
Islam di Korea Utara: Fakta-Fakta Menarik yang Mungkin Mengejutkan