pesantren

Lantunan Shalawat dan Doa Bersatu: Merayakan Hari Santri dengan Kedamaian

Senin, 20 Oktober 2025 | 11:37 WIB
Merayakan Hari Santri dengan Kedamaian (Foto/Ilustrasi)

IFA.Id - Langit sore mulai berwarna jingga. Di halaman pesantren yang luas, para santri duduk bersila dalam lingkaran, memegang kitab kecil di tangan kanan dan tasbih di tangan kiri. Angin berhembus lembut membawa aroma tanah basah dan dupa kayu gaharu. Hari Santri 2025 menjadi lebih bermakna dengan lantunan shalawat yang menggema dari surau-surau kecil di seluruh penjuru negeri.

Di Pesantren Darul Ulum, Jawa Timur, ribuan santri menggelar dzikir dan doa bersama menjelang magrib. Suara “Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad” terdengar bersahutan, menciptakan harmoni spiritual yang menenangkan. Dalam setiap irama shalawat, terselip doa untuk negeri: agar damai, agar makmur, agar dijauhkan dari segala bencana dan perpecahan.

“Shalawat bukan hanya pujian untuk Rasulullah, tapi juga bentuk cinta kepada sesama,” ujar KH. Munir Anwar, pengasuh pesantren tersebut. Dengan suara yang bergetar, beliau menambahkan, “Santri mengajarkan kita bagaimana mencintai negeri tanpa kebencian, berjuang tanpa kekerasan, dan beribadah tanpa pamrih.” Kata-kata itu disambut air mata haru dari para jamaah.

Dari ujung Sumatra hingga Papua, peringatan Hari Santri kali ini membawa tema kedamaian sebagai kekuatan. Di berbagai daerah, masyarakat turut serta dalam majelis shalawat. Tidak hanya para santri, tapi juga petani, nelayan, dan anak-anak kecil yang ikut bersenandung dengan wajah polos dan gembira

Baca Juga: Tanda Petunjuk Setelah Shalat Istikharah: Benarkah Mimpi Jadi Jawaban?

Di pesantren putri An-Najah, para santriwati menyiapkan bunga-bunga melati untuk menghiasi masjid. Sementara sebagian lainnya menyalakan lentera kecil di sekitar halaman, menciptakan pemandangan yang indah saat malam tiba. Lembutnya cahaya lentera berpadu dengan alunan shalawat, menghadirkan suasana yang begitu menenangkan hati.

Beberapa pesantren di kota besar mengadakan doa bersama lintas generasi. Para alumni datang membawa keluarga mereka, mengenang masa-masa belajar di pesantren. “Dulu kami membaca kitab kuning dengan lampu teplok, kini anak-anak kami membaca Al-Qur’an lewat layar ponsel. Tapi nilai cintanya tetap sama,” tutur salah seorang alumni dengan senyum bangga.

Pemerintah daerah pun turut mendukung kegiatan ini. Di Jakarta, acara doa dan shalawat bersama digelar di Lapangan Banteng, dihadiri ribuan jamaah. Tidak ada sekat antara pejabat dan rakyat, antara guru dan murid. Semua duduk sejajar, bersatu dalam dzikir dan cinta Rasul.

Malam semakin larut, namun suara shalawat tak kunjung reda. Dari speaker masjid, dari rumah warga, dari pesantren terpencil di pegunungan — semua menyatu dalam satu nada yang sama: damai. Indonesia malam itu seolah diselimuti oleh kehangatan spiritual yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Baca Juga: Cara Shalat Istikharah yang Benar dan Waktu Terbaik Melakukannya

Bagi para santri, malam Hari Santri adalah malam perenungan. Mereka menundukkan kepala, memohon ampunan, dan berjanji untuk terus menjaga ajaran Islam dengan lembut dan santun. “Kami ingin menjadi cahaya bagi negeri, bukan api yang membakar,” kata seorang santri muda sambil menatap langit yang mulai dihiasi bintang.

Hari Santri 2025 menegaskan kembali bahwa kekuatan Indonesia tidak hanya ada pada senjata atau kekuasaan, melainkan pada doa dan kedamaian. Lantunan shalawat yang menggema malam itu menjadi simbol bahwa selama santri terus berdoa dan berdzikir, Indonesia akan selalu diliputi cahaya kasih dan rahmat Tuhan.

Tags

Terkini