Modelnya? Sangat luas. Ada abaya Timur Tengah, baju kurung Melayu, kebaya longgar ala Nusantara, gamis modern, hingga pashmina sederhana.
Baca Juga: Pandangan Ulama tentang Budaya Pamer
Islam memberikan batas, bukan detail presisi.
Faktanya: hijab punya prinsip tetap, tetapi modelnya bisa mengikuti budaya, kenyamanan, dan konteks sosial.
Mitos 5: Hijab membuat seseorang otomatis lebih baik
Hijab kerap dipandang sebagai simbol moralitas. Jika memakai hijab maka dianggap lebih baik, jika belum berhijab dianggap kurang. Cara pandang seperti ini sangat reduktif, bahkan tidak mencerminkan ajaran Islam yang melihat amal, hati, dan niat sebagai ukuran utama.
IFA.id mencatat bahwa banyak perempuan berhijab yang masih berjuang memperbaiki diri setiap hari, sama seperti yang belum berhijab juga berjuang dalam perjalanan spiritualnya. Dua-duanya adalah manusia yang sedang tumbuh.
Faktanya: hijab tidak otomatis menjadikan seseorang sempurna. Ia hanya salah satu bentuk ketaatan, sementara akhlak tetap pusat penilaian.
Baca Juga: Riyaa: Ancaman Tersembunyi Sikap Pamer
Mitos 6: Hijab tidak relevan di zaman modern
Di era digital dan globalisasi, hijab tetap menjadi identitas yang kuat. Bahkan, semakin banyak muslimah di industri profesional, kesehatan, teknologi, hingga dunia kreatif yang tampil percaya diri dengan hijab. Mereka menjadi bukti bahwa hijab tidak menghalangi kompetensi.
Bahkan tren fashion modest wear berkembang pesat secara global. Banyak brand besar menampilkan model berhijab, menunjukkan bahwa hijab bukan hambatan modernitas, tetapi bagian dari keberagaman gaya hidup dunia.
Faktanya: hijab relevan karena ia fleksibel mengikuti zaman.
Mitos 7: Tidak berhijab berarti menolak ajaran Islam
Ini salah satu mitos paling sensitif. Islam tidak mengajarkan untuk menghakimi. Ada muslimah yang sudah siap berhijab, ada yang masih berproses. Ada pula yang memahami dalil tetapi belum menemukan kenyamanan psikologis.