IFA.id - merangkum sebuah pertanyaan klasik yang tak pernah kehilangan relevansi: mengapa hijab diwajibkan dalam Islam? Pertanyaan ini tak muncul dari ruang kosong. Ia lahir dari rasa ingin tahu, pencarian jati diri, dan perjalanan spiritual yang dialami banyak muslimah.
Ada momen ketika seseorang duduk di kamar, memegang sehelai kain, lalu bertanya dalam hati: apakah hijab hanya aturan? Atau ia punya makna yang lebih dalam?
Pertanyaan semacam itu wajar. Bahkan penting. Sebab hijab bukan sekadar simbol luar. Ia tersambung dengan perjalanan batin, keyakinan, dan cara seseorang melihat diri sendiri di hadapan Allah.
Dan di sinilah kisah ini dimulai.
Hijab dalam Kalimat Pertama: Perintah yang Turun dengan Lembut
Dalam berbagai kajian yang disampaikan para ulama, hijab disebut bukan sebagai aturan yang muncul tiba-tiba. Perintahnya datang bertahap, sebagaimana banyak hukum lain yang berkaitan dengan kehidupan sosial umat Islam.
Baca Juga: Makna Hijab dalam Islam: Antara Ibadah dan Identitas Diri
Ayat paling dikenal tentang hijab tercantum dalam QS. An-Nur: 31:
"Katakanlah kepada para perempuan beriman, hendaklah mereka menahan pandangan dan menjaga kehormatan mereka. Hendaklah mereka tidak menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya..."
IFA.id mencatat bahwa para ahli tafsir sepakat, perintah “menutupkan kain kerudung ke dada” merupakan aturan yang menjelaskan fungsi hijab bukan sekadar menutup kepala, tetapi juga menjaga kehormatan dan adab berpakaian.
Ayat lain terdapat dalam QS. Al-Ahzab: 59:
"Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan para perempuan mukmin: hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Hal itu lebih mudah agar mereka dikenali dan tidak diganggu."
Baca Juga: Pandangan Ulama tentang Budaya Pamer