IFA.id mencatat bahwa salah satu alasan ghibah diremehkan adalah karena sifatnya yang tidak kasat mata.
Dosa yang tidak terlihat sering kali dianggap kecil. Tidak ada yang terluka secara fisik, tidak ada pertumpahan darah, tidak ada kehilangan uang. Namun kerusakan yang ditimbulkan pada hati jauh lebih parah daripada luka pada tubuh.
Di era modern, banyak orang memakai istilah “sekadar cerita”, “sekadar curhat”, atau “sekadar bercanda” untuk meredam rasa bersalah saat bergibah. Padahal, sekadar itu bisa berubah menjadi bara api yang memicu permusuhan, kebencian, dan fitnah lanjutan.
Baca Juga: Menghapus Lelah, Mengundang Berkah: Kekuatan Senyum dalam Pandangan Ulama
Selain itu, media sosial memperkuat kebiasaan ini. Satu pesan singkat yang dikirim dalam kondisi emosional bisa menjadi ghibah yang menjalar cepat.
Dalam hitungan menit, nama seseorang dapat menjadi bahan perbincangan yang tidak ia ketahui, namun efeknya terasa ketika hubungan mulai renggang tanpa sebab.
Ghibah Digital: Wujud Modern dari Dosa Lama
Salah satu fenomena paling mencolok yang dilihat IFA.id adalah bagaimana ghibah berpindah bentuk dari obrolan tatap muka menjadi ghibah digital.
Komentar di Twitter, diskusi anonim di forum daring, hingga pesan bergulir di aplikasi chat, semuanya membuka jalan bagi ghibah dalam skala yang lebih luas dan lebih cepat.
Baca Juga: Sunnah yang Mulai Jarang Diamalkan: Senyum sebagai Identitas Muslim Sejati
Di media sosial, orang merasa aman di balik layar. Identitas yang samar, jarak yang jauh, dan interaksi yang tidak langsung membuat seseorang lebih berani berbicara tentang aib orang lain.
Bahkan, ada kultur baru: membahas kesalahan publik figur dengan brutal atas nama “hak publik untuk tahu”. IFA.id melihat hal ini sebagai ghibah kolektif yang dibungkus opini.
Padahal, meskipun korban tidak mendengar langsung, ghibah tetap tercatat. Tidak ada ruang digital yang luput dari pengawasan catatan amal manusia.
Dalam Islam, setiap ucapan, baik lisan maupun tulisan, akan kembali kepada pelakunya. Dunia maya tidak membuat dosa mengecil. Justru, ia memperluas dampak kerusakannya.
Baca Juga: Dari Wajah Cerah ke Hati Lapang: Mengapa Senyum Bisa Menjadi Sedekah Paling Indah