Satu fenomena menarik adalah munculnya eco-pesantren, terutama di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Konsepnya sederhana: pesantren bukan hanya tempat belajar kitab kuning, tetapi juga laboratorium hidup tentang bagaimana menjadi Muslim yang menjaga bumi.
Kompos organik, panel surya, pengelolaan sampah berbasis santri, hingga kebun mandiri menjadi praktik nyata.
Salah satu pengasuh pesantren pernah berkata dalam sebuah kajian: “Jika santri tidak diajari mencintai bumi, bagaimana mereka kelak mencintai ciptaan-Nya?” Kalimat itu menjadi fondasi banyak gerakan hijau di pesantren.
Baca Juga: Malam Penuh Cahaya: Mengapa Umat Islam Dianjurkan Memperbanyak Doa di Malam Jumat
IFA.id menilai bahwa keberhasilan eco-pesantren bukan hanya pada teknis pengelolaan lingkungan, tetapi pada kesadaran spiritual yang ditanamkan. Di situlah aspek Green Islam menjadi kuat dan terasa nyata.
Karena ajaran Islam tentang kebersihan, kesederhanaan, dan tanggung jawab sosial diterjemahkan menjadi tindakan langsung.
Gerakan Hijau di Masjid: Dari Khutbah hingga Aksi Kolektif
Tidak hanya pesantren, banyak masjid kini mulai mengembangkan program masjid hijau. Konsepnya bermacam-macam: pengurangan penggunaan plastik, penggunaan energi hemat, taman masjid yang ditanami tanaman obat, hingga program sedekah sampah yang hasilnya disalurkan kepada yatim dan duafa.
IFA.id mencatat bahwa kajian di masjid-masjid besar mulai memasukkan tema ekoteologi Islam dalam materi khutbah Jumat.
Baca Juga: Dari Kesempitan Menuju Kelapangan: Doa Malam Jumat untuk Membuka Jalan Hidup
Para khatib menekankan bahwa merawat lingkungan bukan tren, tetapi bagian dari ketakwaan. Ketika jamaah mendengar bahwa membuang sampah sembarangan bisa termasuk menyakiti makhluk lain, pesan itu menampar kesadaran banyak orang.
Menariknya, gerakan masjid hijau juga didukung kalangan muda. Generasi digital yang aktif di media sosial memulai kampanye-kampanye kecil seperti “Hijaukan Jumat”, “Sedekah Tanam Pohon”, atau “Bawa Botol Sendiri ke Masjid”. Pada titik ini, Green Islam bukan lagi wacana kajian, tetapi gaya hidup spiritual.
Green Islam di Media Sosial: Dakwah yang Lebih Segar
Trend dakwah digital kini menjadikan Green Islam semakin populer. Banyak ustaz muda membahas hubungan antara ibadah dan keberlanjutan lingkungan lewat video pendek, ilustrasi Islami, hingga podcast.
Pembahasan ringan seperti “Mengapa Muslim harus hemat air saat wudu?” atau “Sunnah menjaga kebersihan sebagai dasar eco-living” menjadi sangat viral, terutama di kalangan remaja dan mahasiswa.