IFA.id - membuka pembahasan ini dengan sebuah pertanyaan sederhana yang sering muncul di banyak ruang obrolan: Benarkah ada waktu mustajab di Hari Jumat yang membuat doa lebih dekat pada ijabah?
Pertanyaan ini muncul bukan tanpa alasan. Banyak yang pernah merasakan doa seolah menemukan jalannya di hari penuh keberkahan ini. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan, seolah hati sedang disiapkan untuk mendekat.
Di antara seluruh hari yang dilewati setiap pekan, Jumat selalu punya tempat istimewa. Rasulullah menyebutnya sebagai sayyidul ayyam, pemimpin semua hari. Dan di dalamnya, ada momen langka yang oleh para ulama disebut sebagai sa’atul ijabah, waktu khusus ketika doa tak tertolak.
IFA.id mencoba merangkum secara hangat dan naratif tentang apa itu waktu mustajab, kapan terjadinya, dan bagaimana cara menghidupkannya agar Hari Jumat benar-benar menjadi ruang bertemu antara hamba dan Tuhannya.
Baca Juga: Manfaat Membaca Surah Al-Kahfi di Hari Jumat
Apa Itu Waktu Mustajab Hari Jumat?
Dalam banyak riwayat, disebutkan bahwa Hari Jumat menyimpan detik-detik tertentu ketika doa seseorang sangat mungkin dikabulkan. Para ulama menggambarkannya sebagai momen yang tertutup rapat, namun cukup bagi yang mencarinya dengan ketulusan.
Rasulullah bersabda bahwa di dalam Hari Jumat terdapat satu waktu ketika seorang hamba tidaklah berdoa kepada Allah kecuali dikabulkan. Namun, waktu itu disembunyikan, seolah menjadi rahasia kecil antara Allah dan para pencari-Nya.
Ada sesuatu yang menggetarkan di sini: waktu itu tidak diberitahu secara gamblang, agar manusia tetap mencari, tetap mengetuk, tetap berharap.
Dua Pendapat Terkuat Tentang Kapan Terjadinya Sa’atul Ijabah
Dari sekian banyak pendapat ulama, IFA.id merangkum dua yang paling kuat dan paling banyak dirujuk.
Baca Juga: Mengapa Jumat Disebut Sayyidul Ayyam? Ini Penjelasannya
1. Antara Duduknya Khatib hingga Selesai Shalat Jumat
Pendapat pertama menyebut bahwa waktu mustajab terjadi ketika khatib duduk di mimbar hingga shalat Jumat selesai.