IFA.id - Pernah melihat seseorang memberi makan kucing di pinggir jalan lalu tersenyum lega seolah bebannya berkurang? Tindakan sederhana itu ternyata lebih dari sekadar rasa iba.
Ada sesuatu yang bergerak halus di dalam diri rasa damai yang datang tanpa diminta. IFA.id menelusuri sisi psikologis dari sedekah kepada hewan, terutama kucing, yang ternyata menyentuh wilayah terdalam dari fitrah manusia: kasih sayang.
Sedekah: Tak Hanya untuk Manusia
Bagi sebagian orang, sedekah identik dengan memberi uang ke fakir miskin. Padahal dalam Islam, makna sedekah jauh lebih luas.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap kebaikan adalah sedekah.” (HR. Bukhari Muslim). Termasuk memberi makan hewan yang lapar, bahkan yang tak bisa mengucap terima kasih.
Baca Juga: Benarkah Sedekah ke Kucing Bisa Menghapus Dosa? Ini Penjelasan Ulama
IFA.id mencatat, banyak kisah sahabat Nabi yang diselamatkan dari kesulitan karena berbuat baik kepada binatang.
Salah satunya kisah seorang wanita pezina yang diampuni Allah setelah memberi minum seekor anjing kehausan. Jika kepada anjing saja bisa begitu besar pahalanya, bagaimana dengan kucing, hewan yang dikenal dekat dengan manusia sejak ribuan tahun?
Koneksi Emosional antara Manusia dan Hewan
Dari sisi psikologi modern, tindakan memberi makan hewan atau menyelamatkan mereka dari lapar, haus, atau sakit, merangsang pelepasan hormon oksitosin—zat kimia otak yang memunculkan rasa tenang dan kasih sayang.
Penelitian di Journal of Positive Psychology (2018) menemukan bahwa aktivitas memberi, termasuk kepada hewan, menurunkan tingkat kortisol (hormon stres) dan meningkatkan kebahagiaan jangka panjang.
Baca Juga: Kisah Nyata: Rezeki Datang Setelah Sedekah ke Kucing Lapar
Itulah sebabnya seseorang merasa lebih ringan setelah memberi makan kucing, walau hanya sepotong ikan kecil.