Rasa cukup membuat hati lapang, bukan sempit. Ia menumbuhkan empati, karena seseorang yang bersyukur tahu bagaimana berbagi.
Ia tidak sibuk iri pada keberhasilan orang lain, tapi justru mendoakan kebaikan bagi mereka. Ia tidak menyesali yang tak dimiliki, karena sibuk memanfaatkan yang ada untuk memberi manfaat.
Di sinilah letak berkah bukan pada jumlah, tapi pada keikhlasan dan kebermanfaatan.
Baca Juga: Fenomena Malam Lailatul Qadar: Misteri di Sepuluh Hari Terakhir
Menjadi Hamba yang Bersyukur
Allah mencintai hamba yang tahu berterima kasih. Dalam setiap sujud, kita bisa mengucap syukur dengan hati yang sadar: “Ya Allah, terima kasih telah memberi napas, memberi waktu, memberi iman, memberi kesempatan memperbaiki diri.”
Setiap detik adalah nikmat. Setiap langkah adalah kesempatan untuk lebih dekat kepada-Nya.
Ketika kita mulai melihat hidup dengan kacamata syukur, dunia tak lagi terasa sempit. Kita tak lagi dikejar-kejar oleh keinginan duniawi, karena hati telah menemukan ketenangan sejati cukup bersama Allah.
Baca Juga: Ramadan di Era Digital: Mencari Berkah di Tengah Kesibukan Online