IFA.id – Pernahkah hati merasa tak pernah benar-benar tenang, meski semua impian sudah tercapai? Rumah sudah ada, pekerjaan stabil, bahkan mungkin sudah dihormati orang. Tapi entah kenapa, selalu ada ruang kosong di dalam diri yang tak bisa dijelaskan.
Itulah tanda halus yang sering diabaikan: hati manusia sebenarnya sedang rindu pada rumah sejatinya — bukan di dunia ini.
Kisah Singkat: Sepasang Sepatu dan Rasa Tak Pernah Cukup
Suatu ketika, seorang pemuda membeli sepatu baru yang sudah lama ia idam-idamkan. Warna, model, dan mereknya sempurna.
Hari pertama dipakai, ia berjalan penuh percaya diri, seolah dunia memujanya. Tapi seminggu kemudian, ia mulai menatap sepatu orang lain yang tampak lebih bagus, lebih baru, lebih mahal.
Baca Juga: Bekerja Tanpa Mengeluh: Jalan Sunyi Para Pekerja yang Menyebut Kantornya Sebagai Mihrab
Akhirnya ia membeli lagi, dan lagi, hingga lemari penuh. Namun yang terasa justru kosong. Bukan karena kurang sepatu, tapi karena hatinya tak pernah puas.
Cerita sederhana ini menggambarkan salah satu penyakit paling halus manusia modern: haus akan kepemilikan, tapi lapar akan makna.
Dunia yang Diciptakan Sementara
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: “Dan kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini bukan sekadar peringatan, tapi juga pengingat tentang hakikat. Dunia ini memang tempat ujian, bukan tempat tinggal selamanya.
Baca Juga: Dari Kantor ke Masjid: Cerita Nyata Profesional yang Menemukan Makna Ibadah dalam Pekerjaan
Maka wajar bila segala yang ada di dalamnya bersifat fana: harta bisa hilang, jabatan bisa runtuh, cinta bisa pudar, dan hidup sendiri bisa berakhir kapan saja.