Artinya, kalau tafsirnya bias gender, bukan karena Al-Qur’an patriarkis melainkan karena penafsirnya hidup dalam kultur patriarki. Hal ini tampak jelas dalam banyak praktik sehari-hari.
Misalnya, dalam sebagian masyarakat, perempuan dilarang tampil di ruang publik, padahal sejarah Islam mencatat tokoh-tokoh perempuan seperti Khadijah RA (pengusaha sukses), Aisyah RA (perawi hadis), dan Ummu Waraqah (imam perempuan dalam lingkup terbatas).
Baca Juga: Guru Sebagai Jalan Pahala: Mengajar dan Belajar dalam Timbangan Ibadah
Namun, dalam konteks sosial tertentu, peran semacam itu justru dianggap tabu bukan karena larangan agama, melainkan tekanan sosial.
Kisah dari Zaman Nabi: Ketika Kesetaraan Itu Nyata
Jika menengok ke masa Rasulullah SAW, banyak kisah menunjukkan bagaimana Islam menempatkan laki-laki dan perempuan dalam hubungan yang saling menghormati.
Dalam satu riwayat, Rasulullah berdiri menghormati jenazah seorang perempuan Yahudi yang lewat di hadapannya sebuah tindakan yang pada masa itu sangat tidak lazim.
Dalam kesempatan lain, beliau mendengarkan pendapat Ummu Salamah yang mengkritik kebijakan pembagian peran dalam keluarga, dan tidak segan mengubah keputusan setelah mempertimbangkannya.
Baca Juga: Adab Sebelum Ilmu: Jalan Menuju Keberkahan Belajar yang Hakiki
Bahkan, Aisyah RA sering berdebat terbuka dengan para sahabat laki-laki dalam hal ilmu dan hukum. Fakta-fakta seperti ini menunjukkan bahwa kesetaraan gender dalam Islam bukanlah wacana baru, melainkan warisan yang sempat hilang karena tafsir patriarkis di masa setelahnya.
Mitos-Mitos Patriarki yang Perlu Diluruskan
1. Islam Membatasi Peran Perempuan di Rumah Saja.
Faktanya, banyak perempuan pada masa Rasulullah yang aktif di luar rumah: berdagang, mengajar, bahkan ikut dalam peperangan sebagai petugas medis. Islam tidak pernah melarang perempuan bekerja, selama menjaga nilai moral dan keseimbangan peran keluarga.
2. Suami adalah Pemimpin Absolut.
Kata “qawwam” dalam QS. An-Nisa:34 sering disalahartikan sebagai superioritas laki-laki atas perempuan. Padahal, makna aslinya adalah “pemelihara” atau “penanggung jawab”, bukan “penguasa”. Kepemimpinan dalam Islam bersifat amanah, bukan dominasi.
3. Perempuan Tidak Boleh Menjadi Pemimpin.
Dalam sejarah Islam, pernah ada perempuan yang menjadi pemimpin politik dan spiritual seperti Ratu Bilqis dalam Al-Qur’an, atau Shajar ad-Durr di Mesir. Jadi, pelarangan mutlak terhadap perempuan memimpin sebenarnya lebih bersumber dari budaya daripada ajaran Islam.
Baca Juga: Doa Setelah Salat Jumat: Saat Hati dan Langit Saling Terhubung