Baca Juga: Demo dalam Pandangan Ulama: Ketika Amar Ma’ruf Harus Tetap Beradab
Namun beliau menolak dan berdoa: “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak tahu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah jiwa sejati santri: bukan mengutuk, tetapi mendoakan. Bukan menghancurkan, tapi membangun dengan cinta dan kesabaran.
Di era media sosial, banyak yang beranggapan bahwa diam adalah lemah. Padahal dalam Islam, diam bisa menjadi bentuk kekuatan tertinggi. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika dunia memprovokasi dengan kebencian, seorang santri sejati memilih zikir daripada caci maki. Ketika banyak yang menjerit dengan marah, ia menjerit dengan doa.
Baca Juga: Santri Turun ke Jalan: Antara Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Batas Adab Islami
Setiap tindakan Rasulullah adalah bentuk demo spiritual terhadap kebatilan tetapi tanpa bentrokan, tanpa menghina, tanpa menyakiti. Ia mengubah masyarakat bukan dengan kekuatan fisik, melainkan kekuatan cinta dan keyakinan.
Para ulama pesantren mengajarkan bahwa perubahan sejati lahir dari hati, bukan dari amarah. Maka, ketika santri menyampaikan aspirasi, mereka harus menjaga marwah pesantren: sopan, berilmu, dan beradab.
Pesantren bukan hanya tempat belajar kitab kuning, tapi juga tempat menimba kesabaran, ketawadhuan, dan kearifan.
Banyak kiai menasihati bahwa aksi sosial harus selalu di bawah bimbingan ilmu. Tanpa ilmu, demo bisa berubah menjadi fitnah; tanpa adab, dakwah bisa kehilangan berkah.
Baca Juga: Santri Bergerak, Indonesia Bermartabat: Semangat Baru di Hari Santri 2025
Kiai Hasyim Asy’ari pernah berkata: “Menjaga ketertiban dan adab lebih utama daripada menuruti hawa nafsu dalam membela kebenaran.”
Artinya, Islam tidak hanya mengajarkan “apa yang benar”, tetapi juga “bagaimana cara menyampaikan kebenaran itu dengan benar.”
Generasi santri era digital harus menjadi pelanjut estafet dakwah yang penuh kasih. Gunakan pena, kamera, dan media sosial sebagai alat amar ma’ruf, bukan alat menghina. Jadilah pelita, bukan bara.
Rasulullah ﷺ telah membuktikan bahwa perubahan besar tidak lahir dari teriakan, tapi dari ketulusan dan kasih sayang.