ibrah

Meneladani Rasulullah: Protes Tanpa Kekerasan, Dakwah Tanpa Caci-Maki

Senin, 20 Oktober 2025 | 18:21 WIB
Meneladani Rasulullah berarti menghadirkan kedamaian, bukan kemarahan. Berdakwah dengan akhlak, bukan dengan amarah. Karena kelembutan lebih kuat dari kekerasan. (Foto/Ilustrasi)

Baca Juga: Demo dalam Pandangan Ulama: Ketika Amar Ma’ruf Harus Tetap Beradab

Namun beliau menolak dan berdoa: “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak tahu." (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah jiwa sejati santri: bukan mengutuk, tetapi mendoakan. Bukan menghancurkan, tapi membangun dengan cinta dan kesabaran.

Di era media sosial, banyak yang beranggapan bahwa diam adalah lemah. Padahal dalam Islam, diam bisa menjadi bentuk kekuatan tertinggi. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika dunia memprovokasi dengan kebencian, seorang santri sejati memilih zikir daripada caci maki. Ketika banyak yang menjerit dengan marah, ia menjerit dengan doa.

Baca Juga: Santri Turun ke Jalan: Antara Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Batas Adab Islami

Setiap tindakan Rasulullah adalah bentuk demo spiritual terhadap kebatilan tetapi tanpa bentrokan, tanpa menghina, tanpa menyakiti. Ia mengubah masyarakat bukan dengan kekuatan fisik, melainkan kekuatan cinta dan keyakinan.

Para ulama pesantren mengajarkan bahwa perubahan sejati lahir dari hati, bukan dari amarah. Maka, ketika santri menyampaikan aspirasi, mereka harus menjaga marwah pesantren: sopan, berilmu, dan beradab.

Pesantren bukan hanya tempat belajar kitab kuning, tapi juga tempat menimba kesabaran, ketawadhuan, dan kearifan.

Banyak kiai menasihati bahwa aksi sosial harus selalu di bawah bimbingan ilmu. Tanpa ilmu, demo bisa berubah menjadi fitnah; tanpa adab, dakwah bisa kehilangan berkah.

Baca Juga: Santri Bergerak, Indonesia Bermartabat: Semangat Baru di Hari Santri 2025

Kiai Hasyim Asy’ari pernah berkata: “Menjaga ketertiban dan adab lebih utama daripada menuruti hawa nafsu dalam membela kebenaran.”

Artinya, Islam tidak hanya mengajarkan “apa yang benar”, tetapi juga “bagaimana cara menyampaikan kebenaran itu dengan benar.”

Generasi santri era digital harus menjadi pelanjut estafet dakwah yang penuh kasih. Gunakan pena, kamera, dan media sosial sebagai alat amar ma’ruf, bukan alat menghina. Jadilah pelita, bukan bara.

Rasulullah ﷺ telah membuktikan bahwa perubahan besar tidak lahir dari teriakan, tapi dari ketulusan dan kasih sayang.

Halaman:

Tags

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB