Baca Juga: Cahaya di Sepertiga Malam: Ketika Tahajud Menjadi Jalan Pulang bagi Hati yang Hilang
Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala āli Sayyidina Muhammad.
Artinya: Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad, serta kepada keluarga beliau.
IFA.id mencatat, doa sederhana ini sering diulang ratusan kali dalam satu malam Maulid. Bagi santri, pengulangan bukan sekadar ritual, melainkan cara mendekatkan hati kepada Rasul.
Setiap shalawat adalah bisikan cinta, setiap lantunan adalah doa agar kelak bisa berjumpa dengannya di surga.
Selain makna spiritual, Maulid juga menjadi ajang kebersamaan. Di banyak pesantren, setelah acara pembacaan Maulid, para santri dan warga sekitar duduk bersama menikmati hidangan sederhana biasanya nasi berkat atau tumpeng kecil.
Baca Juga: Tenang di Tengah Gelap: Tahajud Sebagai Terapi Jiwa dalam Pandangan Islam
Makan bersama ini bukan sekadar tradisi sosial, tapi simbol bahwa cinta kepada Nabi harus diwujudkan dalam persaudaraan sesama manusia.
IFA.id mencatat, di banyak daerah, Maulid di pesantren bahkan menjadi magnet sosial. Warga datang, anak-anak berlarian, dan semua bergembira dalam suasana penuh keberkahan.
Tak ada batas antara santri dan masyarakat semua larut dalam semangat kebersamaan. Kiai-kiai tua sering berkata,
“Barang siapa menghadiri Maulid dengan niat cinta kepada Nabi, maka hidupnya akan dipenuhi cahaya.” Kalimat itu bukan sekadar nasihat, tapi pengalaman spiritual yang telah dibuktikan oleh banyak orang.
Baca Juga: Ketika Dunia Terlelap, Langit Justru Terbuka: Keajaiban Doa Tahajud
Dalam konteks budaya, pesantren berperan penting menjaga keberlangsungan tradisi Maulid di Indonesia. Di tengah arus modernisasi, pesantren tetap mempertahankan nilai-nilai lokal seperti pembacaan shalawat berirama gamelan atau hadrah.
Beberapa pesantren bahkan mengajarkan para santri membuat rebana, mengaransemen shalawat, dan menulis puisi Maulid.
IFA.id menilai, ini adalah bentuk nyata bagaimana pesantren menjadi penjaga warisan spiritual Nusantara.