Kamis, 4 Juni 2026

Tradisi Maulid di Pesantren: Pesta Ruhani yang Menyentuh Hati

- Kamis, 16 Oktober 2025 | 14:05 WIB
Tradisi Maulid di Pesantren: Pesta Ruhani yang Menyentuh Hati (Foto/Ilustrasi)
Tradisi Maulid di Pesantren: Pesta Ruhani yang Menyentuh Hati (Foto/Ilustrasi)

Baca Juga: Cahaya di Sepertiga Malam: Ketika Tahajud Menjadi Jalan Pulang bagi Hati yang Hilang

Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala āli Sayyidina Muhammad.

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad, serta kepada keluarga beliau.

IFA.id mencatat, doa sederhana ini sering diulang ratusan kali dalam satu malam Maulid. Bagi santri, pengulangan bukan sekadar ritual, melainkan cara mendekatkan hati kepada Rasul.

Setiap shalawat adalah bisikan cinta, setiap lantunan adalah doa agar kelak bisa berjumpa dengannya di surga.

Selain makna spiritual, Maulid juga menjadi ajang kebersamaan. Di banyak pesantren, setelah acara pembacaan Maulid, para santri dan warga sekitar duduk bersama menikmati hidangan sederhana biasanya nasi berkat atau tumpeng kecil.

Baca Juga: Tenang di Tengah Gelap: Tahajud Sebagai Terapi Jiwa dalam Pandangan Islam

Makan bersama ini bukan sekadar tradisi sosial, tapi simbol bahwa cinta kepada Nabi harus diwujudkan dalam persaudaraan sesama manusia.

IFA.id mencatat, di banyak daerah, Maulid di pesantren bahkan menjadi magnet sosial. Warga datang, anak-anak berlarian, dan semua bergembira dalam suasana penuh keberkahan.

Tak ada batas antara santri dan masyarakat semua larut dalam semangat kebersamaan. Kiai-kiai tua sering berkata,

“Barang siapa menghadiri Maulid dengan niat cinta kepada Nabi, maka hidupnya akan dipenuhi cahaya.” Kalimat itu bukan sekadar nasihat, tapi pengalaman spiritual yang telah dibuktikan oleh banyak orang.

Baca Juga: Ketika Dunia Terlelap, Langit Justru Terbuka: Keajaiban Doa Tahajud

Dalam konteks budaya, pesantren berperan penting menjaga keberlangsungan tradisi Maulid di Indonesia. Di tengah arus modernisasi, pesantren tetap mempertahankan nilai-nilai lokal seperti pembacaan shalawat berirama gamelan atau hadrah.

Beberapa pesantren bahkan mengajarkan para santri membuat rebana, mengaransemen shalawat, dan menulis puisi Maulid.

IFA.id menilai, ini adalah bentuk nyata bagaimana pesantren menjadi penjaga warisan spiritual Nusantara.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X