IFA.id - Bayangkan pagi di tahun 1998. Harga-harga melonjak, tabungan menguap, dan uang kertas yang kemarin masih cukup untuk belanja kini seolah tak ada nilainya. Momen seperti itu bukan sekadar kenangan masa lalu kini bayangannya mulai tampak lagi.
Dunia sedang kembali gelisah. Krisis mata uang, inflasi tinggi, dan ketidakstabilan ekonomi global membuat banyak orang bertanya: adakah sistem keuangan yang lebih adil dan tahan badai?
IFA.id mencatat, di tengah gelombang fluktuasi ini, ada satu konsep lama yang kembali naik daun Dinar Emas. Sebuah mata uang yang pernah berjaya ratusan tahun, kini kembali diperbincangkan sebagai solusi ekonomi masa depan.
Uang kertas, yang dulu dianggap simbol kemajuan, kini justru menjadi sumber ketidakpastian. Sejak dilepaskannya standar emas oleh Amerika Serikat pada tahun 1971, dunia memasuki era “uang fiat” uang tanpa jaminan nilai intrinsik.
Baca Juga: Dinar & Dirham: Investasi Sunnah di Akhir Zaman
Nilainya hanya bergantung pada kepercayaan terhadap pemerintah yang mencetaknya. Namun kepercayaan itu rapuh.
Krisis di Venezuela, Lebanon, hingga Turki menunjukkan betapa cepatnya uang bisa kehilangan daya beli. Bahkan di negara maju, inflasi mulai menggerus nilai tabungan masyarakat.
IFA.id menelusuri laporan IMF dan Bank Dunia, yang menyebut bahwa lebih dari 30% negara berkembang kini menghadapi risiko hiperinflasi dalam 5 tahun ke depan.
Di Indonesia, inflasi memang masih terkendali, tapi bayang-bayang pelemahan rupiah dan ketergantungan pada dolar terus menghantui.
Masalahnya bukan hanya ekonomi, tapi juga kepercayaan. Ketika nilai uang bisa berubah dalam semalam, rasa aman masyarakat ikut terkikis. Banyak yang mulai mencari “pegangan nyata” aset yang punya nilai intrinsik, bukan sekadar angka di layar bank digital.
Baca Juga: Surga dan Neraka: Akhir dari Segala Perjalanan Manusia
Emas selalu menjadi simbol stabilitas. Namun, ketika konsep Dinar Emas diperkenalkan kembali, bukan hanya soal investasi. Ini adalah ajakan untuk menata ulang sistem nilai: dari ekonomi berbasis hutang menuju ekonomi berbasis aset nyata.
IFA.id melansir, Dinar bukan hal baru dalam sejarah Islam. Sejak masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan pada abad ke-7, Dinar menjadi alat tukar yang adil dan stabil.