Kamis, 4 Juni 2026

Krisis Mata Uang dan Solusi Dinar di Era Modern

- Kamis, 9 Oktober 2025 | 11:11 WIB
Allah menumbuhkan keberkahan dari sesuatu yang halal dan bernilai. (Foto/Ilustrasi)
Allah menumbuhkan keberkahan dari sesuatu yang halal dan bernilai. (Foto/Ilustrasi)

IFA.id - Bayangkan pagi di tahun 1998. Harga-harga melonjak, tabungan menguap, dan uang kertas yang kemarin masih cukup untuk belanja kini seolah tak ada nilainya. Momen seperti itu bukan sekadar kenangan masa lalu  kini bayangannya mulai tampak lagi.

Dunia sedang kembali gelisah. Krisis mata uang, inflasi tinggi, dan ketidakstabilan ekonomi global membuat banyak orang bertanya: adakah sistem keuangan yang lebih adil dan tahan badai?

IFA.id mencatat, di tengah gelombang fluktuasi ini, ada satu konsep lama yang kembali naik daun Dinar Emas. Sebuah mata uang yang pernah berjaya ratusan tahun, kini kembali diperbincangkan sebagai solusi ekonomi masa depan.

Uang kertas, yang dulu dianggap simbol kemajuan, kini justru menjadi sumber ketidakpastian. Sejak dilepaskannya standar emas oleh Amerika Serikat pada tahun 1971, dunia memasuki era “uang fiat” uang tanpa jaminan nilai intrinsik.

Baca Juga: Dinar & Dirham: Investasi Sunnah di Akhir Zaman

Nilainya hanya bergantung pada kepercayaan terhadap pemerintah yang mencetaknya. Namun kepercayaan itu rapuh.

Krisis di Venezuela, Lebanon, hingga Turki menunjukkan betapa cepatnya uang bisa kehilangan daya beli. Bahkan di negara maju, inflasi mulai menggerus nilai tabungan masyarakat.

IFA.id menelusuri laporan IMF dan Bank Dunia, yang menyebut bahwa lebih dari 30% negara berkembang kini menghadapi risiko hiperinflasi dalam 5 tahun ke depan.

Di Indonesia, inflasi memang masih terkendali, tapi bayang-bayang pelemahan rupiah dan ketergantungan pada dolar terus menghantui.

Masalahnya bukan hanya ekonomi, tapi juga kepercayaan. Ketika nilai uang bisa berubah dalam semalam, rasa aman masyarakat ikut terkikis. Banyak yang mulai mencari “pegangan nyata” aset yang punya nilai intrinsik, bukan sekadar angka di layar bank digital.

Baca Juga: Surga dan Neraka: Akhir dari Segala Perjalanan Manusia

Emas selalu menjadi simbol stabilitas. Namun, ketika konsep Dinar Emas diperkenalkan kembali, bukan hanya soal investasi. Ini adalah ajakan untuk menata ulang sistem nilai: dari ekonomi berbasis hutang menuju ekonomi berbasis aset nyata.

IFA.id melansir, Dinar bukan hal baru dalam sejarah Islam. Sejak masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan pada abad ke-7, Dinar menjadi alat tukar yang adil dan stabil.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X