IFA.id – Suatu sore di pelataran masjid kecil di pinggiran kota, seorang pemuda melihat seorang kakek yang kesulitan memikul galon air. Tanpa pikir panjang, ia berlari membantu. Tidak ada yang memotret, tidak ada tepuk tangan — hanya senyum tulus yang terukir.
Adegan sederhana itu, kata IFA.id, adalah wujud nyata ajaran Islam: kebaikan kecil yang membawa keberkahan besar. Dalam Islam, menolong sesama bukan pilihan moral, tapi bagian dari iman yang hidup dalam tindakan.
Al-Qur’an menegaskan dalam QS. Al-Māidah ayat 2:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
Ayat ini menegaskan, menolong bukan hanya sikap sosial, melainkan bentuk ketaatan spiritual.
Menurut KH. Ahmad Baidhowi, pengasuh pesantren di Yogyakarta yang diwawancarai IFA.id, ayat tersebut menunjukkan bahwa keimanan seseorang tak hanya diukur dari salat dan puasa, tapi juga sejauh mana ia memberi manfaat bagi orang lain.
“Iman yang tidak diwujudkan dalam amal sosial seperti menolong, sejatinya belum sempurna,” ujarnya.
Baca Juga: Gerakan Kecil, Dampak Besar: Ketika Budaya Tolong-Menolong Hidup Kembali di Tengah Kota
Menolong dalam Islam bukan tentang balasan duniawi, melainkan karena kesadaran bahwa setiap manusia adalah amanah Allah yang saling membutuhkan.
Dalam Islam, nilai tertinggi dari bantuan bukan pada besar kecilnya, melainkan pada ketulusannya. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya.” (HR. Muslim)
Makna hadis ini begitu mendalam: menolong orang lain sejatinya sedang menolong diri sendiri.
Ketika seseorang menolong tanpa pamrih, Allah-lah yang menjadi pemberi ganjaran.
IFA.id mencatat, inilah yang disebut para ulama sebagai ‘ikhlas murni’ — menolong bukan karena ingin dipuji, melainkan karena cinta kepada Allah dan kasih sayang terhadap sesama makhluk-Nya.
Baca Juga: Ungkap Keutamaan Doa Setelah Sholat Fardhu
Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam hal menolong.
Dalam banyak riwayat, beliau sering turun langsung membantu masyarakat, tanpa memandang status.
Ketika Madinah kekurangan air, beliau ikut menggali sumur. Saat sahabatnya kelaparan, beliau yang pertama membagi makanan, bahkan ketika dirinya sendiri belum makan.
IFA.id menulis ulang kisah klasik dari Sirah Nabawiyah:
Suatu hari, seorang laki-laki datang mengadu kepada Rasulullah karena lapar. Tanpa ragu, Rasulullah mengajak laki-laki itu ke rumahnya. Namun Aisyah RA berkata, “Kami tidak memiliki apa pun selain air.”
Mendengar itu, Rasulullah meminta sahabat untuk menjamu tamu itu. Sahabat Anshar pun membawanya pulang, dan bersama istrinya, mereka pura-pura mematikan lampu agar tamu bisa makan sementara mereka menahan lapar.
Baca Juga: Hadis Sahih Tentang Waktu Mustajab Doa Setelah Sholat