IFA.id – Suatu malam di sudut kota, seorang perempuan muda berhijab biru menurunkan termos berisi teh hangat di trotoar. Di hadapannya, seorang pria paruh baya terbaring di atas kardus bekas, menyelimuti tubuhnya dengan jaket lusuh. Tanpa banyak bicara, perempuan itu hanya tersenyum, menuangkan teh, dan meletakkan roti di samping pria itu. Tidak ada kamera, tidak ada siaran langsung — hanya sepasang tangan yang terulur dengan tulus.
Adegan sederhana itu, seperti yang IFA.id amati di banyak kota, adalah potret kecil dari sesuatu yang kerap terlupakan: kekuatan membantu sesama, bahkan ketika dunia sibuk dengan urusannya sendiri.
Membantu sesama tidak selalu soal uang atau kekuatan. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk peduli.
Psikolog sosial dari Universitas Indonesia, Dr. Rini Safitri, menjelaskan kepada IFA.id bahwa tindakan altruistik sering kali muncul dari empati spontan — dorongan hati yang membuat seseorang merasa "harus" bertindak saat melihat penderitaan orang lain.
Baca Juga: Mitos vs Fakta: Memisahkan Kepercayaan Rakyat dan Ajaran Islam tentang Meteor
“Ketika seseorang menolong, ada aktivitas otak yang memberi rasa puas dan bahagia. Itulah sebabnya, orang yang sering membantu biasanya lebih optimis dan stabil secara emosional,” ujarnya.
Kebahagiaan itu bukan hadiah dari orang yang ditolong, tapi dari dalam diri sendiri. Seperti cermin, semakin sering seseorang berbuat baik, semakin jernih pula hatinya memandang dunia.
Menurut World Giving Index 2024, Indonesia masih menjadi negara paling dermawan di dunia selama enam tahun berturut-turut. Sekitar 84% responden mengaku pernah membantu orang asing dalam satu bulan terakhir. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata global, yang hanya 47%.
Fakta ini menunjukkan bahwa nilai gotong royong belum benar-benar hilang. Di balik hiruk-pikuk kota, masih banyak tangan yang terulur tanpa pamrih — dari petugas kebersihan yang menolong anak terjatuh di jalan, hingga komunitas kecil yang rutin membagikan makanan gratis di malam hari.
Baca Juga: Bagaimana Meteor Membantu Memperkuat Keimanan: Kisah dan Refleksi
IFA.id mencatat, solidaritas yang tumbuh dari bawah ini adalah kekuatan sosial yang kerap menjadi penyelamat dalam masa krisis, terutama saat bencana alam atau pandemi.
Di daerah Bantul, Yogyakarta, seorang ibu penjual soto bernama Bu Tri menjadi inspirasi banyak orang setelah viral karena kebiasaannya memberi makan gratis bagi siapa pun yang tidak mampu membayar.
“Kadang cuma satu dua mangkok yang gratis, tapi lama-lama orang lain ikut bantu. Ada yang nyumbang beras, ada yang nitip uang,” cerita Bu Tri kepada IFA.id dengan mata berkaca-kaca.
Kisahnya kemudian memantik gerakan baru di kalangan anak muda kampungnya: Gerakan Soto Amal. Kini, setiap Jumat, warung itu ramai bukan karena rasa sotonya saja, tapi karena semangat berbagi yang menular.
“Kalau hati sudah senang membantu, rezeki datang sendiri,” katanya sambil tertawa.
Kemajuan teknologi membawa cara baru untuk menolong.
Platform donasi digital seperti KitaBisa dan BenihBaik memudahkan masyarakat untuk berdonasi hanya dengan satu sentuhan. Namun, di balik kenyamanan itu, muncul juga tantangan: keikhlasan.