Allāhumma lā ṭaira illā ṭairuka, wa lā khaira illā khairuka, wa lā ilāha ghairuka.
Artinya:
“Ya Allah, tiada pertanda kecuali pertanda dari-Mu, tiada kebaikan kecuali kebaikan dari-Mu, dan tiada Tuhan selain Engkau.”
Doa ini menunjukkan adab seorang Muslim ketika menyaksikan fenomena alam: bukan panik, bukan mencari takwil mistis, melainkan mengingat kebesaran Allah dengan penuh ketundukan.
Baca Juga: Tahajud dan Kesuksesan: Rahasia Orang-Orang Hebat
Meteor bisa menjadi simbol tentang dua sisi manusia: rasa ingin tahu dan rasa takut. Keduanya harus diarahkan ke jalan yang benar — rasa ingin tahu menumbuhkan ilmu, rasa takut menumbuhkan iman.
IFA.id mencatat bahwa masyarakat modern sering mengagumi langit dengan teleskop, tapi lupa menatapnya dengan hati. Padahal, dalam setiap cahaya yang melesat, ada pesan agar manusia tidak terlalu lama menunduk pada dunia.
Islam tidak menolak sains, tapi mengingatkan bahwa di balik hukum fisika ada kehendak Allah. Maka ketika meteor melintas, mungkin itu cara langit berbisik: ingatlah siapa yang menata segala orbit itu.
Setiap detik, ada ribuan meteor kecil terbakar di atmosfer. Langit terus bekerja, tanpa henti, tanpa salah. Begitu pula kehidupan: penuh pergerakan, terkadang membakar, terkadang bersinar, tapi selalu berada dalam rencana besar Allah.
Baca Juga: Waktu Terbaik Tahajud dan Rahasianya dalam Al-Qur’an
Meteor jatuh bukan malapetaka, melainkan tanda kehidupan bahwa semesta masih aktif, dan Tuhan masih menegakkan keseimbangan.
Bagi hati yang peka, setiap cahaya di langit adalah ajakan untuk kembali — kembali kepada kesadaran bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari ciptaan yang sangat besar.
Baca Juga: Rahasia Sholat Tahajud: Panggilan Lembut di Tengah Malam