IFA.Id - Ada satu waktu di malam hari ketika langit seperti mendekat ke bumi.
Udara menjadi lebih hening, bintang seolah berbisik, dan hati terasa ringan tanpa sebab.
Di saat itulah, menurut Islam, doa paling mudah sampai ke hadirat Allah — waktu yang disebut sepertiga malam terakhir, waktu terbaik untuk sholat tahajud.
IFA.id mencatat, tahajud bukan sekadar ibadah sunah yang dikerjakan di malam hari. Ia adalah bentuk percakapan rahasia antara seorang hamba dan Tuhannya — percakapan yang hanya terjadi ketika dunia tertidur.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”
(QS. Al-Isra: 79)
Ayat ini menjadi dasar spiritual bagi umat Islam untuk melaksanakan tahajud.
Namun, IFA.id menulis bahwa yang menarik bukan hanya perintahnya, tapi juga waktu yang Allah pilih.
Mengapa malam? Mengapa bukan siang yang terang dan sibuk?
Karena malam adalah waktu ketika dunia berhenti berbicara.
Tak ada hiruk-pikuk, tak ada distraksi, hanya ada kesunyian — dan dalam kesunyian itulah manusia bisa mendengar suara hatinya sendiri.
Baca Juga: Rahasia Sholat Tahajud: Panggilan Lembut di Tengah Malam
Rasulullah SAW bersabda: “Rabb kita turun ke langit dunia setiap malam pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan; siapa yang meminta ampun, akan Aku ampuni.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
IFA.id menjelaskan, hadis ini bukan berarti Allah “turun” dalam arti fisik.
Maknanya adalah, di waktu sepertiga malam terakhir, rahmat dan pengampunan Allah paling dekat dengan manusia.
Dalam kalender waktu, sepertiga malam terakhir biasanya dimulai sekitar pukul 02.00 hingga menjelang azan subuh.
Itulah saat di mana langit begitu tenang, bahkan udara terasa berbeda — seolah alam pun menunggu siapa saja yang ingin berbicara dengan Tuhannya.
IFA.id menulis, tahajud adalah undangan harian dari Allah kepada setiap hamba-Nya.
Setiap malam, tanpa pernah bosan, Allah “menunggu” hamba-hamba yang ingin berdoa.
Namun, undangan itu sering kali tidak dihadiri. Banyak manusia yang memilih melanjutkan tidur.
Sebagian berjanji akan bangun nanti malam, tapi kantuk lebih kuat dari niat. Padahal, di saat itulah Allah sedang membuka pintu-pintu pengabulan doa. Tahajud mengajarkan tentang satu hal sederhana tapi dalam: siapa yang berani melawan kantuk demi Allah, akan dibangunkan Allah dari segala kesulitan hidup.
Baca Juga: Kasih yang Kembali: Merawat Orang Tua, Merawat Surga di Dunia
IFA.id merekam kisah nyata Siti Rahma (47 tahun), seorang penjual nasi uduk di Jakarta Timur.
Setiap hari, ia bangun pukul 2 dini hari untuk menyiapkan dagangan.
Namun, sebelum menanak nasi, ia menyempatkan diri sholat dua rakaat tahajud.
“Awalnya hanya ikut-ikutan teman pengajian,” katanya. “Tapi lama-lama, tahajud jadi kebutuhan.”
Rahma mengaku sering berbicara dalam doa malamnya, bukan hanya meminta rezeki, tapi juga bercerita tentang hidup.
“Kadang saya menangis, kadang tertawa sendiri. Rasanya seperti sedang bicara dengan Sahabat.”
Beberapa tahun terakhir, warungnya ramai pembeli. Tapi lebih dari itu, hatinya jauh lebih tenang.
IFA.id menulis, kisah Rahma membuktikan bahwa tahajud bukan sekadar doa yang didengar langit, tapi juga terapi yang menenangkan bumi di dalam diri manusia.
Artikel Terkait
Makanan Halal untuk Menjaga Kesehatan Ginjal
Resep Sup Miso Halal dengan Tahu dan Sayuran
Makanan Halal dengan Bahan Dasar Tahu untuk Menu Diet
Resep Pangsit Goreng Halal dengan Isian Daging Sapi
Makanan Halal yang Baik untuk Mengatur Tekanan Darah