IFA.id – Bayangkan diberi kabar vonis kanker stadium lanjut. Dunia serasa runtuh, masa depan terasa buram. Itulah yang dialami Ibu Rani, seorang ibu rumah tangga di Jakarta berusia 45 tahun.
Dokter menyatakan ia mengidap kanker payudara stadium 3. Saat itu, harapan tampak kecil. Namun, alih-alih menyerah, ia menjadikan doa dan ikhtiar sebagai senjata utama.
Hari ketika vonis itu datang, Ibu Rani menangis seharian. Namun malamnya, ia mengambil wudhu, lalu menunaikan salat Tahajud. Dalam doa panjang, ia berbisik:
“Ya Allah, jika Engkau uji aku dengan sakit ini, berilah aku kekuatan. Jangan biarkan aku menyerah sebelum berjuang.”
Baca Juga: Sejarah Qurban dari Nabi Ibrahim hingga Tradisi Idul Adha
Doa itu menjadi titik balik. Dari situ, ia bertekad menjalani pengobatan medis, didampingi dengan doa tanpa henti.
Pengobatan kanker tidak mudah. Ibu Rani harus menjalani operasi, kemoterapi, dan terapi radiasi. Tubuhnya lemah, rambut rontok, mual berkepanjangan.
Namun, di setiap ruang perawatan, ia selalu membawa mushaf kecil. Selepas tindakan medis, ia melantunkan doa lirih, membuat perawat terharu melihat keteguhannya.
“Kalau badan saya sakit, doa yang menenangkan hati,” katanya kepada IFA.id.
Baca Juga: Doa Nabi agar Dipertemukan dengan Pasangan yang Membahagiakan
Suaminya setia mendampinginya, anak-anaknya selalu mendoakan setelah salat. Bahkan tetangga sering mengadakan doa bersama untuk kesembuhannya.
Kekuatan doa kolektif ini membuat Ibu Rani merasa tidak sendirian. “Doa orang lain jadi energi tambahan untuk saya. Saya yakin Allah mendengar,” tuturnya.
Setelah enam bulan pengobatan, dokter mulai melihat perkembangan positif. Sel kanker berangsur mengecil, kondisi tubuhnya lebih stabil.
Doa dan ikhtiar medis seakan berjalan seiring. Ketika tubuhnya nyaris menyerah, doa membuatnya bertahan. Ketika doa dipanjatkan, ikhtiar medis menemukan jalannya.