IFA.id – Di sebuah pesantren sederhana di Madura, seorang santri bernama Fajar memendam mimpi besar: ingin menjadi dokter. Ia bukan dari keluarga kaya, ayahnya hanya buruh tani, ibunya pedagang kecil di pasar. Namun, setiap malam selepas salat Isya, ia berdoa di mushala pesantren, mengulang-ulang kalimat sederhana:
“Ya Allah, jadikan aku dokter agar bisa menolong banyak orang.”
Doa itu ia panjatkan bertahun-tahun, seakan menjadi bagian dari nafasnya.
Selepas lulus pesantren, Fajar menghadapi kenyataan pahit. Biaya kuliah kedokteran terlalu mahal untuk keluarganya. Banyak teman menyarankan agar ia kuliah di jurusan lain yang lebih terjangkau.
Baca Juga: Kapan Doa Paling Cepat Dikabulkan Setelah Sholat?
Namun, Fajar tidak menyerah. Ia tetap mendaftar ke fakultas kedokteran negeri favorit. “Kalau Allah mau, pasti ada jalan,” begitu keyakinannya.
Hasilnya? Fajar diterima. Yang mengejutkan, ia langsung mendapat beasiswa penuh dari sebuah lembaga zakat nasional yang mendanai mahasiswa berprestasi dari keluarga dhuafa.
Ia teringat doa-doa panjangnya di pesantren dulu. Dengan mata berkaca-kaca, ia berkata: “Doa itu memang tak langsung dijawab, tapi Allah beri di saat yang paling tepat.”
Di bangku kuliah, Fajar harus menghadapi ujian berat: materi kedokteran yang rumit, praktik klinik yang melelahkan, hingga keterbatasan biaya hidup meski biaya kuliah sudah gratis.
Baca Juga: Kumpulan Doa Pilihan Setelah Sholat Maghrib yang Dianjurkan Rasulullah SAW
Namun, satu hal yang selalu ia jaga: doa. Setelah setiap salat fardhu, ia meluangkan waktu berdoa, persis seperti kebiasaan di pesantren. Baginya, doa adalah sumber energi yang membuatnya bertahan ketika banyak teman lain menyerah.
Saat memasuki tahun terakhir, kampus membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengikuti program riset di Jepang. Ratusan mahasiswa mendaftar, hanya 5 yang diterima.
Fajar, santri desa dengan bahasa Inggris seadanya, awalnya tak percaya diri. Namun ia tetap mendaftar, berdoa dengan sungguh-sungguh, bahkan menambah doa lewat salat tahajud setiap malam.
Hasilnya mengejutkan: ia lolos seleksi dan berangkat ke Jepang untuk riset kedokteran selama setahun.