IFA.id–Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Adha dengan menyembelih hewan qurban.
Namun, sedikit yang benar-benar merenungkan dari mana tradisi ini bermula. Sejarah qurban bukanlah sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang bermula sejak ribuan tahun lalu.
Kisah Nabi Ibrahim AS menjadi fondasi utama yang membuat qurban memiliki makna begitu dalam bagi umat Islam hingga hari ini.
Kisahnya bermula ketika Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah SWT melalui mimpi untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS.
Baca Juga: Hukum dan Syarat Sah Qurban yang Wajib Dipahami Muslim
Bagi seorang ayah, perintah ini tentu mengguncang jiwa. Namun, ketaatan Nabi Ibrahim tidak bisa dipandang remeh. Beliau meyakini bahwa perintah Allah selalu mengandung hikmah, meski sulit dipahami akal manusia.
Momen inilah yang kemudian menjadi simbol pengorbanan sejati: mendahulukan perintah Allah di atas segala kepentingan pribadi.
Nabi Ismail pun bukan sosok yang menolak. Ia justru menerima perintah tersebut dengan lapang dada, menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah.
Ketika prosesi penyembelihan akan dilakukan, Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba sebagai bentuk rahmat dan ujian yang telah terlewati. Sejak saat itu, qurban menjadi simbol kesetiaan, keikhlasan, dan pengorbanan yang abadi.
Baca Juga: Makna Qurban dalam Islam: Bukan Sekadar Sembelih Hewan
Sejarah qurban terus diwariskan dalam syariat Islam. Nabi Muhammad SAW menegaskan kembali perintah berqurban sebagai salah satu ibadah penting pada Hari Raya Idul Adha.
Beliau bahkan berpesan bahwa hewan yang disembelih akan menjadi saksi amal saleh bagi pelakunya di hari kiamat. Dengan demikian, qurban bukan hanya simbol sejarah, melainkan juga ibadah yang bernilai spiritual tinggi dan berdampak sosial luas.
Dalam tradisi umat Islam, qurban dilakukan dengan menyembelih hewan ternak yang sehat, seperti kambing, sapi, atau unta.