IFA.id – Kisah Nabi Musa bukan sekadar cerita sejarah, tetapi cermin tentang perjuangan melawan ketidakadilan.
Musa lahir di tengah situasi mencekam, ketika Firaun Mesir memerintahkan pembunuhan setiap bayi laki-laki Bani Israil. Dalam keadaan genting, ibunya menghanyutkan Musa ke sungai Nil dengan harapan keselamatan.
Takdir kemudian membawanya ke istana Firaun, ironisnya dibesarkan oleh keluarga yang kelak akan menjadi lawan perjuangannya.
Seiring dewasa, Musa menyaksikan langsung penderitaan kaumnya, Bani Israil. Mereka dipaksa bekerja sebagai budak, tanpa hak dan martabat.
Baca Juga: Nabi Ibrahim: Teladan Keikhlasan dan Pengorbanan Sejati
Dalam satu peristiwa, Musa membela seorang kaumnya hingga tanpa sengaja membunuh seorang Mesir. Dari titik itu, ia melarikan diri ke negeri Madyan dan memulai babak baru kehidupannya.
Perjalanan ini menjadi fase pembentukan diri, dari seorang pelarian menjadi sosok pemimpin yang kelak diutus untuk membawa perubahan besar.
Di Madyan, Musa menemukan ketenangan bersama keluarga Nabi Syuaib. Namun panggilan suci datang ketika Allah menampakkan mukjizat di Bukit Tursina.
Musa menerima amanat besar: kembali ke Mesir untuk menantang Firaun dan menuntut pembebasan bagi Bani Israil.
Baca Juga: Kisah Nabi Nuh: Keteguhan Iman di Tengah Badai Ujian
Bayangkan, seorang yang dulu buronan kini diperintahkan menghadapi penguasa paling berkuasa saat itu. Inilah titik balik yang menegaskan keberanian Musa sebagai utusan.
Pertemuan Musa dengan Firaun adalah drama besar. Dengan tongkat yang berubah menjadi ular dan tangan yang bercahaya, Musa membawa bukti kebenaran.
Namun Firaun tetap keras kepala, bahkan menuduh Musa sebagai penyihir. Meski demikian, perjuangan Musa tak surut. Ia terus berdakwah, menyuarakan keadilan, dan menegaskan bahwa tak ada kekuasaan yang abadi selain milik Allah.