Strategi dan Perang Melawan Tentara Salib
Salahuddin bukan hanya seorang jenderal yang mahir dalam pertempuran, tetapi juga seorang pemimpin yang cerdas dalam diplomasi dan strategi perang.
Ia berusaha menyatukan dunia Islam yang saat itu terpecah-belah akibat perselisihan internal.
Puncak perjuangannya terjadi dalam Pertempuran Hattin pada 4 Juli 1187. Dalam pertempuran ini, Salahuddin berhasil menghancurkan pasukan utama Tentara Salib yang dipimpin oleh Guy de Lusignan, Raja Yerusalem.
Pasukan Kristen mengalami kekalahan telak, dan banyak prajurit serta pemimpin mereka yang ditawan. Kemenangan ini membuka jalan bagi Salahuddin untuk merebut Yerusalem.
Baca Juga: Rahasia Kemenangan dalam Perang Khandaq: Strategi, Kesabaran, dan Iman
Pembebasan Yerusalem
Pada 2 Oktober 1187, Salahuddin memasuki Yerusalem setelah hampir 90 tahun berada di bawah kekuasaan Kristen.
Berbeda dengan peristiwa tahun 1099, ketika Tentara Salib membantai penduduk Yerusalem, Salahuddin menunjukkan sikap penuh belas kasih.
Ia memberikan kesempatan kepada kaum Kristen untuk meninggalkan kota dengan damai atau tetap tinggal dengan membayar tebusan yang wajar.
Mereka yang tidak mampu membayar bahkan dibebaskan begitu saja.
Sikap toleran ini mengejutkan dunia Barat, karena sangat bertolak belakang dengan kebrutalan Tentara Salib ketika pertama kali merebut kota tersebut.
Salahuddin pun dihormati oleh kawan maupun lawan, termasuk oleh Richard the Lionheart dari Inggris, yang kemudian menjadi musuhnya dalam Perang Salib Ketiga.
Warisan Salahuddin Al-Ayyubi
Pembebasan Yerusalem oleh Salahuddin menandai momen penting dalam sejarah Islam dan dunia.