IFA.id – Maurice Bucaille adalah dokter bedah dan ilmuwan Prancis yang lahir di Pont-l'Évêque pada 19 Juli 1920.
Ia terkenal bukan hanya karena kemampuan medisnya, tetapi juga karena perjalanan spiritualnya yang mengubah hidupnya.
Bucaille belajar kedokteran di Universitas Paris dan meraih gelar dokter bedah. Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia bekerja dengan sukses sebagai ahli gastroenterologi dan menjadi kepala klinik bedah di Universitas Paris.
Baca Juga: Hukum Menghargai Agama Lain dalam Islam: Sebuah Kajian Toleransi dan Kerukunan Antar Umat Beragama
Pada tahun 1973, Raja Faisal dari Arab Saudi mengangkatnya sebagai dokter pribadi, meningkatkan reputasinya di dunia medis.
Puncak dari karier Bucaille datang ketika ia diundang oleh Presiden Mesir, Anwar Sadat, untuk memimpin penelitian terhadap mumi Firaun yang terkenal.
Setelah pemerintah Prancis memberikan bantuan untuk menganalisis mumi tersebut, Bucaille melakukan penelitiannya.
Baca Juga: Bisnis Sewa Menyewa dalam Perspektif Islam
Ia menemukan bahwa sisa-sisa garam di mumi tersebut menunjukkan bahwa Firaun mungkin tenggelam di laut, seperti yang diceritakan dalam Al-Qur'an bahwa dia tenggelam saat mengejar Nabi Musa.
Karena temuan ini, dia menjadi lebih tertarik untuk menyelidiki Al-Qur'an lebih dalam. Ia mulai mempelajari teks keagamaan dan membandingkannya dengan pengetahuan ilmiah modern.
Hasil studinya menunjukkan banyak keselarasan antara wahyu Al-Qur'an dan temuan ilmiah modern, yang semakin memperkuat keyakinannya akan kebenaran isi Al-Qur'an.
Baca Juga: Makanan Halal dan Terjangkau di Thailand: Pilihan Hemat untuk Wisatawan Muslim
Maurice Bucaille menemukan keyakinan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu dari Tuhan setelah melakukan penelitian yang mendalam tentang kitab suci tersebut.
Setelah mempelajari dengan teliti ajaran islam dan memahami maknanya, ia akhirnya memutuskan untuk memeluk islam.