IFA.id melihat bahwa ajaran Islam ini sangat indah. Islam tidak memaksa, tetapi mengajarkan empati praktis. Tolong sebisanya. Jika tidak bisa menolong fisik, setidaknya jangan menambah masalah. Itulah inti adab.
Baca Juga: Julid di Media Sosial Menurut Ulama
Tidak Menyebarkan Gambar atau Video Musibah
Fenomena lain yang marak adalah merekam musibah. Padahal, Islam sangat ketat dalam menjaga kehormatan seorang Muslim.
Aurat yang terbuka, kondisi tubuh yang lemah, wajah yang kesakitan, semua itu adalah kehormatan manusia yang harus dijaga. Menyebarkan video musibah berarti menyebarkan aib, meskipun bukan aib moral.
Syariat mengajarkan bahwa menutup aib adalah amal besar. Dalam banyak hadis, Allah menjanjikan ampunan bagi siapa yang menutupi aib saudaranya.
Karena itu, merekam korban kecelakaan, menyebarkan foto rumah terbakar, atau memperlihatkan wajah seseorang yang sedang kesusahan adalah tindakan yang harus dihindari.
Baca Juga: Penyakit Sosial yang Diabaikan Umat
IFA.id menekankan poin ini sebagai salah satu adab paling penting di era digital. Menolong tanpa kamera jauh lebih mulia daripada merekam tanpa menolong.
Menguatkan dengan Doa, Tidak Menghakimi
Saat musibah terjadi, orang kadang mencari penyebabnya. Bahkan ada yang langsung menilai: “Pasti ini hukuman.” Padahal tidak seorang pun tahu takdir di balik musibah.
Musibah tidak selalu berarti hukuman. Kadang ia menjadi ujian. Kadang ia menjadi penghapus dosa. Kadang ia menjadi jalan menuju kenaikan derajat.
Tugas seorang Muslim adalah mendoakan kebaikan, bukan menafsirkan musibah sebagai keburukan.
Baca Juga: Mengapa Julid Bisa Merusak Hati?
Bila seseorang menjalani operasi darurat, kecelakaan kerja, atau rumahnya terbakar, doa yang dianjurkan adalah doa ketabahan, doa kesembuhan, doa perlindungan, bukan ucapan yang menyakitkan.
Artikel Terkait
Bagaimana Islam Memandang Kebebasan Berhijab di Tengah Dunia Modern?
Psikologi Hijab: Dampaknya pada Rasa Aman, Keyakinan, dan Identitas Muslimah