Kamis, 4 Juni 2026

Mengapa Dzikir Jadi Terapi Mental Paling Menenangkan?

- Jumat, 21 November 2025 | 19:17 WIB
Dzikir menjadi tempat kembali yang menenangkan ketika hati gelisah dan pikiran terasa penuh. (Foto/Ilustrasi)
Dzikir menjadi tempat kembali yang menenangkan ketika hati gelisah dan pikiran terasa penuh. (Foto/Ilustrasi)

Dzikir juga menahan pikiran agar tidak lari pada skenario-skenario buruk yang seringkali hanya asumsi. Saat kalimat “Subhanallah”, “Alhamdulillah”, atau “La ilaha illallah” memenuhi ruang batin, pikiran tak lagi punya ruang untuk menciptakan kecemasan baru. Ia tertahan, lalu mereda perlahan.

IFA.id sering menemukan bahwa ketenangan mental bukan datang dari memaksakan diri menjadi kuat, melainkan memberi ruang untuk diam, kembali, dan sadar. Dzikir memberikan ruang itu.

Baca Juga: Kurma Ajwa dan Kisah Keutamaannya

Dzikir sebagai Self-Healing yang Membumi

Banyak istilah modern muncul: self-healing, mindfulness, grounding, emotional releasing. Semuanya bermanfaat, tetapi kadang terasa jauh dari keseharian. Dzikir justru lebih dekat, lebih alami, dan sesuai dengan ritme hidup masyarakat muslim.

Self-healing dalam Islam bukan melupakan masalah, tetapi mengembalikan jiwa kepada sandaran yang lebih stabil. Ketika hati sedang kacau, dzikir menghadirkan kembali fokus pada Yang Maha Mengatur.

Saat seseorang mengatakan “Hasbunallah wa ni’mal wakil”, kalimat itu bukan hanya bacaan, tetapi deklarasi bahwa hidup tidak seburuk yang dibayangkan karena Allah yang memegang semuanya.

Dzikir menghadirkan perspektif baru. Rasa gelisah bisa berubah menjadi penerimaan. Rasa takut berubah menjadi pasrah.

Baca Juga: Tradisi Mengonsumsi Kurma di Kalangan Muslim

Rasa hampa berubah menjadi harapan. Perubahan ini tidak terjadi mendadak, tetapi tumbuh pelan. Seperti fajar, ia muncul sedikit demi sedikit hingga akhirnya benar-benar menerangi.

IFA.id melihat ada nilai penting di sini: dzikir membuat manusia merasa ditemani. Mental manusia paling rentan saat merasa sendirian. Dan dzikir menghapus sepi itu.

Mengembalikan Nafas, Mengembalikan Fokus, Mengembalikan Hati

Cemas sering datang ketika napas tidak teratur. Orang tidak sadar bahwa napasnya menjadi lebih pendek, cepat, dan dangkal. Dzikir membantu memperbaiki ritme itu.

Ketika seseorang mengucapkan “Astaghfirullah” berulang kali dengan pelan, napas otomatis mengikuti ritmenya. Tarik, ucapkan, hembus, ulangi.

Baca Juga: Kurma dan Kesehatan Menurut Perspektif Islam

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X