Menjelang siang, setelah seluruh kegiatan selesai, banyak jamaah menutup dengan doa bersama.
Salah satu doa yang sering dibaca:
“Allahumma barik lana fi yaumil khamis, waj’alhu yauman mubaarakan, waqina syarra maa qaddamna wa maa akhkharnā.”
Artinya:
“Ya Allah, berkahilah kami di hari Kamis ini, jadikan ia hari yang penuh keberkahan, dan lindungilah kami dari keburukan masa lalu dan yang akan datang.”
Kamis yang Menyentuh Nurani
Kamis Berkah adalah bukti bahwa ajaran Islam bukan sekadar ibadah vertikal, tapi juga sosial. Ia menjembatani yang mampu dan yang membutuhkan, menyatukan mereka dalam rasa syukur dan cinta kasih.
Baca Juga: Saat Keringat Menjadi Dzikir: Spirit Sehat dari Ajaran Rasulullah
IFA.id melihat, selama masih ada tangan-tangan yang mau memberi, mulut yang berdoa, dan hati yang tulus, Kamis Berkah akan terus hidup. Ia bukan sekadar hari, tapi gerakan nurani yang membuat kehidupan terasa lebih hangat.
Artikel Terkait
Mengapa Rabu Disebut Hari Penuh Ujian? Pandangan Ulama dan Hikmahnya
Olahraga Itu Ibadah: Menemukan Keseimbangan Antara Tubuh dan Iman