IFA.id - Ada masa ketika uang kertas belum dikenal. Di pasar-pasar Madinah, suara koin emas beradu menjadi musik ekonomi yang jujur dan stabil.
Rasulullah SAW pun menegaskan nilai dinar dan dirham sebagai alat tukar yang adil, tak lekang oleh waktu dan tak tergerus inflasi. Kini, di tengah ketidakpastian global, pesan itu kembali menggema: emas tetap menjadi sandaran nilai yang sejati.
IFA.id mencatat, sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga kini, emas selalu menjadi simbol kestabilan.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah pernah mengingatkan bahwa akan datang masa di mana tidak ada yang bermanfaat bagi manusia kecuali dinar dan dirham. Sebuah pesan spiritual sekaligus ekonomi yang terasa semakin relevan di era digital ini.
Baca Juga: Dinar & Dirham: Investasi Sunnah di Akhir Zaman
Emas tidak mengenal batas negara, tak tergantung pada kebijakan bank sentral, dan tak bisa dicetak sesuka hati. Ketika mata uang dunia melemah, emas tetap bersinar.
Seperti langit malam yang tenang, ia memantulkan cahaya keyakinan: nilai sejati tidak bergantung pada kertas atau angka, tapi pada hakikat yang nyata.
Ketika dunia menghadapi badai inflasi, banyak yang mulai merindukan sistem keuangan yang lebih jujur. Uang kertas yang dahulu dianggap solusi kini menjadi sumber keresahan.
Nilainya merosot, daya beli menurun, dan kepercayaan publik goyah. Di sinilah dinar dan dirham hadir bukan hanya sebagai logam mulia, tapi juga simbol keadilan.
Baca Juga: Surga dan Neraka: Akhir dari Segala Perjalanan Manusia
IFA.id melansir, beberapa komunitas Islam di Indonesia dan Malaysia mulai menghidupkan kembali transaksi dengan dinar dan dirham.
Mereka bukan sekadar bernostalgia, tetapi berusaha menjalankan sunnah ekonomi Rasulullah yang menegakkan keseimbangan antara dunia dan akhirat.
Rasulullah SAW menempatkan kejujuran sebagai inti dari setiap transaksi. Dinar dan dirham, yang memiliki nilai intrinsik, menjadi cerminan kejujuran itu. Tak seperti uang kertas yang bisa dimanipulasi, dinar dan dirham memiliki nilai yang nyata, terukur, dan tidak berubah oleh waktu.
Dalam sejarah Islam, Khalifah Umar bin Khattab dan Khalifah Utsman bin Affan juga menggunakan dinar dan dirham dalam sistem keuangan negara. Sistem ini terbukti membawa stabilitas ekonomi selama berabad-abad.
Artikel Terkait
Antara Sains dan Iman: Menggandeng Astronomi dan Tafsir Gerhana
Makna Gerhana bagi Jiwa Modern: Ketika Langit Menegur dengan Lembut
Tanda-Tanda Kiamat: Ketika Dunia Perlahan Kehilangan Nur Cahaya
Ketika Langit Terbelah dan Lautan Meluap: Gambaran Dahsyat Hari Kiamat dalam Al-Qur’a