Menurut Dr. Hanan Nuraini, dosen ekonomi syariah Universitas Indonesia, empati adalah dasar moral dari ekonomi Islam.
“Ketika seseorang sadar bahwa hidupnya tak lepas dari hidup orang lain, maka ekonomi akan menjadi alat berbagi, bukan alat menindas,” ujarnya kepada IFA.id.
Baca Juga: Kisah Nyata Pasangan Nikah Beda Agama, Bisa Bertahan?
Zakat, dengan segala ketentuannya, bukan sekadar kewajiban, tapi latihan empati struktural agar umat saling menopang.
Salah satu kisah mengharukan datang dari Khalifah Umar bin Khattab.
Suatu malam, ia berkeliling Madinah dan mendapati seorang ibu memasak batu agar anak-anaknya tertidur karena lapar.
Umar segera kembali ke baitul mal, memanggul sendiri karung gandum, lalu memasaknya untuk keluarga itu.
Ketika seorang sahabat menawarkan bantuan, Umar berkata:
“Apakah engkau akan memanggul dosa-dosaku di akhirat nanti?”
IFA.id mencatat, kisah ini menjadi simbol empati dalam kepemimpinan. Bahwa menolong bukan karena posisi, tapi karena nurani.
Baca Juga: Nikah Beda Agama: Antara Cinta dan Aturan Negara
Penelitian modern menunjukkan, empati adalah kemampuan emosional yang paling penting dalam membangun hubungan sosial yang sehat.
Psikolog Harvard, Daniel Goleman, menyebut empati sebagai “inti dari kecerdasan emosional.”
Jika dibandingkan, Rasulullah SAW sudah mempraktikkannya 14 abad lalu.
Beliau mampu membaca emosi orang lain, memahami tanpa menghakimi, dan mengubah rasa sakit menjadi kekuatan.
“Beliau tidak hanya memahami orang lain, tapi menyalurkan kedamaian yang membuat orang itu sembuh,” tulis IFA.id dalam analisisnya.
Inilah sebabnya, sahabat dan bahkan musuh sekalipun mengakui kelembutan hati beliau.
Dunia modern sering kali membuat manusia kehilangan kepekaan.
Kita terbiasa melihat berita duka, tapi jarang menunduk merenung.
Kita cepat menilai, tapi lambat memahami.
Baca Juga: Islamic Healing: Cara Islam Mengobati Luka Batin
Namun Islam justru hadir untuk mengingatkan kembali nilai empati.
“Maka apakah engkau akan membiarkan anak yatim? Dan engkau tidak saling mendorong memberi makan orang miskin?” (QS. Al-Fajr: 17-18)
Artikel Terkait
Depresi dalam Islam: Penyebab dan Cara Mengatasinya
Hikmah Ujian Hidup: Menemukan Ketenangan di Tengah Kesulitan
Mengapa Sholat Tahajud Bisa Menenangkan Hati dan Pikiran?
Cara Rasulullah Menghadapi Rasa Sedih dan Kecewa
Mengatasi Depresi Tanpa Obat dengan Iman dan Amal Sholeh