Kamis, 4 Juni 2026

Dari Hati ke Hati: Kekuatan Empati dalam Ajaran Rasulullah

- Selasa, 7 Oktober 2025 | 16:48 WIB
Dari Hati ke Hati: Kekuatan Empati dalam Ajaran Rasulullah (Foto/Ilustrasi)
Dari Hati ke Hati: Kekuatan Empati dalam Ajaran Rasulullah (Foto/Ilustrasi)

Menurut Dr. Hanan Nuraini, dosen ekonomi syariah Universitas Indonesia, empati adalah dasar moral dari ekonomi Islam.
“Ketika seseorang sadar bahwa hidupnya tak lepas dari hidup orang lain, maka ekonomi akan menjadi alat berbagi, bukan alat menindas,” ujarnya kepada IFA.id.

Baca Juga: Kisah Nyata Pasangan Nikah Beda Agama, Bisa Bertahan?

Zakat, dengan segala ketentuannya, bukan sekadar kewajiban, tapi latihan empati struktural agar umat saling menopang.

Salah satu kisah mengharukan datang dari Khalifah Umar bin Khattab.
Suatu malam, ia berkeliling Madinah dan mendapati seorang ibu memasak batu agar anak-anaknya tertidur karena lapar.
Umar segera kembali ke baitul mal, memanggul sendiri karung gandum, lalu memasaknya untuk keluarga itu.

Ketika seorang sahabat menawarkan bantuan, Umar berkata:

“Apakah engkau akan memanggul dosa-dosaku di akhirat nanti?”

IFA.id mencatat, kisah ini menjadi simbol empati dalam kepemimpinan. Bahwa menolong bukan karena posisi, tapi karena nurani.

Baca Juga: Nikah Beda Agama: Antara Cinta dan Aturan Negara

Penelitian modern menunjukkan, empati adalah kemampuan emosional yang paling penting dalam membangun hubungan sosial yang sehat.
Psikolog Harvard, Daniel Goleman, menyebut empati sebagai “inti dari kecerdasan emosional.”

Jika dibandingkan, Rasulullah SAW sudah mempraktikkannya 14 abad lalu.
Beliau mampu membaca emosi orang lain, memahami tanpa menghakimi, dan mengubah rasa sakit menjadi kekuatan.

“Beliau tidak hanya memahami orang lain, tapi menyalurkan kedamaian yang membuat orang itu sembuh,” tulis IFA.id dalam analisisnya.
Inilah sebabnya, sahabat dan bahkan musuh sekalipun mengakui kelembutan hati beliau.

Dunia modern sering kali membuat manusia kehilangan kepekaan.
Kita terbiasa melihat berita duka, tapi jarang menunduk merenung.
Kita cepat menilai, tapi lambat memahami.

Baca Juga: Islamic Healing: Cara Islam Mengobati Luka Batin

Namun Islam justru hadir untuk mengingatkan kembali nilai empati.

“Maka apakah engkau akan membiarkan anak yatim? Dan engkau tidak saling mendorong memberi makan orang miskin?” (QS. Al-Fajr: 17-18)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X