Kamis, 4 Juni 2026

Doa Santri yang Mengantarkannya Jadi Dokter di Luar Negeri

- Jumat, 26 September 2025 | 12:16 WIB
Doa Santri yang Mengantarkannya Jadi Dokter di Luar Negeri (Foto/Ilustrasi)
Doa Santri yang Mengantarkannya Jadi Dokter di Luar Negeri (Foto/Ilustrasi)

IFA.id – Di sebuah pesantren sederhana di Madura, seorang santri bernama Fajar memendam mimpi besar: ingin menjadi dokter. Ia bukan dari keluarga kaya, ayahnya hanya buruh tani, ibunya pedagang kecil di pasar. Namun, setiap malam selepas salat Isya, ia berdoa di mushala pesantren, mengulang-ulang kalimat sederhana:

“Ya Allah, jadikan aku dokter agar bisa menolong banyak orang.”

Doa itu ia panjatkan bertahun-tahun, seakan menjadi bagian dari nafasnya.

Selepas lulus pesantren, Fajar menghadapi kenyataan pahit. Biaya kuliah kedokteran terlalu mahal untuk keluarganya. Banyak teman menyarankan agar ia kuliah di jurusan lain yang lebih terjangkau.

Baca Juga: Kapan Doa Paling Cepat Dikabulkan Setelah Sholat?

Namun, Fajar tidak menyerah. Ia tetap mendaftar ke fakultas kedokteran negeri favorit. “Kalau Allah mau, pasti ada jalan,” begitu keyakinannya.

Hasilnya? Fajar diterima. Yang mengejutkan, ia langsung mendapat beasiswa penuh dari sebuah lembaga zakat nasional yang mendanai mahasiswa berprestasi dari keluarga dhuafa.

Ia teringat doa-doa panjangnya di pesantren dulu. Dengan mata berkaca-kaca, ia berkata: “Doa itu memang tak langsung dijawab, tapi Allah beri di saat yang paling tepat.”

Di bangku kuliah, Fajar harus menghadapi ujian berat: materi kedokteran yang rumit, praktik klinik yang melelahkan, hingga keterbatasan biaya hidup meski biaya kuliah sudah gratis.

Baca Juga: Kumpulan Doa Pilihan Setelah Sholat Maghrib yang Dianjurkan Rasulullah SAW

Namun, satu hal yang selalu ia jaga: doa. Setelah setiap salat fardhu, ia meluangkan waktu berdoa, persis seperti kebiasaan di pesantren. Baginya, doa adalah sumber energi yang membuatnya bertahan ketika banyak teman lain menyerah.

Saat memasuki tahun terakhir, kampus membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengikuti program riset di Jepang. Ratusan mahasiswa mendaftar, hanya 5 yang diterima.

Fajar, santri desa dengan bahasa Inggris seadanya, awalnya tak percaya diri. Namun ia tetap mendaftar, berdoa dengan sungguh-sungguh, bahkan menambah doa lewat salat tahajud setiap malam.

Hasilnya mengejutkan: ia lolos seleksi dan berangkat ke Jepang untuk riset kedokteran selama setahun.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X