IFA.id – Beberapa tahun terakhir, tato bukan lagi sekadar simbol pemberontakan atau identitas subkultur tertentu.
Di kalangan anak muda muslim, tato kini hadir dalam bentuk yang lebih beragam: ada yang menganggapnya sebagai ekspresi seni tubuh, ada pula yang melihatnya sebagai gaya hidup modern.
Fenomena ini menimbulkan perdebatan menarik, karena di satu sisi tato memiliki nilai estetika dan identitas, sementara di sisi lain syariat Islam menegaskan larangan tertentu terkait modifikasi tubuh permanen.
Bagi sebagian anak muda muslim, tato dianggap sebagai medium ekspresi diri. Ada yang menggambarkan kisah hidup, kutipan motivasi, hingga simbol-simbol islami seperti kaligrafi Arab.
Baca Juga: Tato Temporer dalam Islam: Alternatif Aman atau Tetap Dilarang?
Hal ini menunjukkan bagaimana seni tubuh bisa bertransformasi menjadi sarana komunikasi personal. Namun, pertanyaan besar pun muncul: apakah seni tubuh tersebut tetap sah dipandang dari sudut pandang syariat, atau justru bertentangan dengan ajaran agama?
Dari perspektif syariat Islam, mayoritas ulama sepakat bahwa membuat tato permanen hukumnya haram karena termasuk mengubah ciptaan Allah. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan larangan Nabi terhadap perbuatan tersebut.
Namun, sebagian ulama kontemporer masih memberi ruang diskusi, terutama terkait tato non-permanen (seperti henna atau temporary tattoo) yang dianggap tidak bertentangan dengan syariat.
Perbedaan pandangan inilah yang sering membuat generasi muda berada di persimpangan antara tren budaya dan tuntunan agama.
Baca Juga: Tato dalam Islam, sekadar seni atau pelanggaran syariat?
Fenomena ini juga tidak bisa dilepaskan dari pengaruh media sosial. Platform seperti Instagram dan TikTok memperlihatkan banyak figur publik muslim bertato, baik dari kalangan artis, musisi, maupun influencer.
Representasi ini menormalisasi tato di mata anak muda, seolah menjadi bagian dari gaya hidup modern. Namun, justru di sinilah tarik-menarik antara modernitas dan religiusitas semakin terasa. Apakah identitas muslim yang taat bisa berjalan berdampingan dengan tato permanen?
Menariknya, sebagian anak muda muslim berusaha mencari jalan tengah. Alih-alih memilih tato permanen, mereka lebih memilih henna artistik atau temporary tattoo yang bisa dihapus.
Ada juga yang memilih mengekspresikan seni tubuh lewat fashion, aksesori, hingga seni digital. Langkah ini dianggap lebih aman, karena tetap bisa merasakan kebebasan berekspresi tanpa meninggalkan batas syariat.
Artikel Terkait
Doa Tulus Anak Yatim Menggetarkan Hati Jamaah Masjid
Pengusaha Muda Bangun Pesantren Gratis untuk Anak Yatim
Momen Lebaran, Anak Yatim Dapat Santunan Berlimpah
Kisah Inspiratif: Anak Yatim Jadi Hafidz Qur’an Cilik
Solidaritas Sosial, Mahasiswa Galang Dana untuk Anak Yatim