Kamis, 4 Juni 2026

Menghadapi Kritik dan Hinaan dengan Bijak dalam Islam agar Tetap Tenang dan Tidak Tersulut Emosi

Gilang Fajar, Ifa.id
- Rabu, 16 April 2025 | 21:14 WIB
Menghadapi Kritik dan Hinaan dengan Bijak dalam Islam agar Tetap Tenang dan Tidak Tersulut Emosi (Foto/YouTube)
Menghadapi Kritik dan Hinaan dengan Bijak dalam Islam agar Tetap Tenang dan Tidak Tersulut Emosi (Foto/YouTube)

IFA.id -- Setiap manusia pasti pernah mengalami situasi di mana dirinya dikritik atau bahkan dihina oleh orang lain.

Kadang, kata-kata tersebut menyakitkan, menyulut emosi, dan menimbulkan luka di hati. Namun, sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk menyikapi semua bentuk perkataan yang datang, baik atau buruk, dengan akhlak yang mulia dan hati yang lapang.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman, “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat: 34).

Ayat ini mengajarkan kita bahwa membalas keburukan dengan kebaikan adalah jalan terbaik yang menunjukkan kekuatan hati dan keluhuran iman.

Baca Juga: Cara Menjaga Konsistensi dalam Berbuat Kebaikan agar Tidak Mudah Lelah dan Tetap Istiqomah

Mengendalikan Emosi dan Tidak Terburu-buru Merespons

Salah satu cara menghadapi hinaan dengan bijak adalah menahan diri untuk tidak langsung bereaksi.

Rasulullah SAW adalah contoh teladan terbaik dalam hal ini. Beliau sering dihina, dilempari batu, dan dicaci oleh kaum Quraisy, namun balasan beliau adalah doa dan kesabaran.

Dari sini, kita belajar bahwa tidak setiap perkataan perlu dibalas, apalagi dengan emosi yang meluap.

Dalam hadis, Nabi SAW bersabda, “Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka dari itu, menahan marah saat dihina adalah tanda kekuatan sejati menurut Islam.

Membedakan Kritik Membangun dan Kritik Menjatuhkan

Tidak semua kritik bersifat merusak. Sebagian kritik bisa menjadi sarana perbaikan diri jika diterima dengan hati terbuka.

Dalam Islam, nasihat merupakan bagian dari iman. Jika seseorang menasihati atau mengkritik kita dengan cara yang baik dan tulus, maka seyogianya kita menerimanya sebagai bentuk kasih sayang.

Namun jika kritik itu bernada menghina atau menjatuhkan, kita tidak perlu menganggapnya sebagai kebenaran.

Ali bin Abi Thalib RA pernah berkata, "Orang bodoh jika kamu lawan, kamu akan seperti dia. Tapi jika kamu diamkan, dia akan merasa malu sendiri."

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X