Kamis, 4 Juni 2026

Fathu Makkah: Misi Suci yang Membawa Kedamaian ke Jazirah Arab

Gilang Fajar, Ifa.id
- Selasa, 25 Februari 2025 | 11:30 WIB
Fathu Makkah: Misi Suci yang Membawa Kedamaian ke Jazirah Arab (Foto/YouTube)
Fathu Makkah: Misi Suci yang Membawa Kedamaian ke Jazirah Arab (Foto/YouTube)

IFA.id -- Fathu Makkah atau penaklukan Mekah merupakan salah satu peristiwa paling bersejarah dalam perjalanan dakwah Islam.

Kejadian ini terjadi pada tahun 8 Hijriyah (630 M) dan menjadi momen penting di mana Islam semakin kokoh sebagai kekuatan utama di Jazirah Arabia.

Yang membuat peristiwa ini sangat luar biasa adalah bagaimana Mekah ditaklukkan tanpa peperangan besar dan minim pertumpahan darah, menunjukkan kebijaksanaan serta kasih sayang Rasulullah SAW dalam menghadapi musuh.

Baca Juga: Makanan Halal yang Mengandung Omega-3 untuk Kesehatan Jantung

Latar Belakang Fathu Makkah

Perjanjian Hudaibiyah yang disepakati pada tahun 6 Hijriyah antara kaum Muslimin dan Quraisy sejatinya bertujuan untuk menjaga perdamaian selama sepuluh tahun.

Namun, Quraisy melanggar perjanjian tersebut dengan membantu sekutunya, Bani Bakr, menyerang Bani Khuza’ah yang merupakan sekutu Muslim.

Pelanggaran ini memicu reaksi dari Rasulullah SAW dan umat Islam di Madinah.

Setelah menerima laporan tentang serangan tersebut, Rasulullah SAW mengirim utusan ke Quraisy untuk menuntut pertanggungjawaban.

Namun, kaum Quraisy enggan memenuhi tuntutan itu. Melihat pengkhianatan ini, Rasulullah SAW memutuskan untuk menyiapkan pasukan untuk menaklukkan Mekah tanpa memberikan ruang bagi perlawanan berarti.

Persiapan dan Strategi Rasulullah SAW

Rasulullah SAW mengerahkan sekitar 10.000 pasukan Muslim menuju Mekah. Demi menjaga elemen kejutan dan menghindari pertempuran yang tidak perlu, beliau merahasiakan rencana penyerangan. Bahkan, pasukan Muslim bergerak dalam disiplin tinggi tanpa menimbulkan kecurigaan di pihak Quraisy.

Saat mendekati Mekah, Rasulullah SAW memerintahkan pasukannya untuk tidak melakukan tindakan agresif kecuali jika terpaksa.

Sikap ini memperlihatkan kebijaksanaan beliau dalam menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Di sisi lain, Abu Sufyan, salah satu pemimpin Quraisy, akhirnya menyadari bahwa perlawanan adalah hal yang sia-sia.

Setelah bertemu dengan Rasulullah SAW, ia pun masuk Islam dan kembali ke Mekah untuk menyampaikan pesan bahwa tidak ada perlawanan yang akan dilakukan terhadap pasukan Muslim.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X