IFA.id -- Pada tahun 1930, pasangan Ny. Rakhmat Sulistio (lahir dengan nama Go Djing Nio) dan suaminya, Siem Thiam Hie, memulai usaha toko roti bernama "Roti Muncul" di Solo.
Di sela-sela kesibukannya, Ny. Rakhmat yang memiliki keahlian meracik jamu mulai memasarkan ramuan herbalnya kepada masyarakat.
Pada tahun 1941, Ny. Rakhmat menciptakan ramuan jamu yang diberi nama "Jamu Tujuh Angin", yang kemudian menjadi cikal bakal produk andalan Sido Muncul, yaitu Tolak Angin.
Baca Juga: Perjalanan SariWangi: Dari Inovasi Teh Celup oleh Johan Supit hingga Akuisisi oleh Unilever
Namun, akibat situasi perang kolonial Belanda, usaha jamu tersebut sempat terhenti, dan keluarga ini mengungsi ke Semarang.
Setelah situasi membaik, pada tahun 1951, Ny. Rakhmat mendirikan kembali usaha jamunya di Semarang dengan nama "Sido Muncul", yang berarti "Impian yang Terwujud".
Bermula dari industri rumahan di Jalan Mlaten Trenggulun No. 104, usaha ini dibantu oleh tiga karyawan.
Seiring berjalannya waktu, Sido Muncul berkembang pesat dan menjadi salah satu produsen jamu terbesar di Indonesia.
Produk andalannya, Tolak Angin, kini dikenal luas oleh masyarakat sebagai obat herbal untuk mengatasi masuk angin.
Kisah Ny. Rakhmat Sulistio menunjukkan bahwa dengan ketekunan dan inovasi, sebuah usaha rumahan dapat berkembang menjadi perusahaan besar yang memberikan manfaat bagi banyak orang.