IFA.id – Idul Adha 2025 membawa kabar yang cukup menggelitik bagi banyak jamaah di Indonesia. Bukan hanya soal semarak takbir dan salat berjamaah, tapi juga isu kenaikan harga hewan kurban yang menjadi perhatian. Dari sapi hingga kambing, harga di pasar tradisional melonjak hingga 20% dibanding tahun sebelumnya.
Di Pasar Hewan Prambanan, Yogyakarta, seekor sapi dengan bobot rata-rata 300 kilogram kini dihargai Rp 23 juta, naik dari Rp 18-19 juta pada 2024. Sementara kambing yang biasanya bisa diperoleh Rp 2,5 juta, kini mencapai Rp 3,5 juta per ekor. Kenaikan ini memunculkan beragam respons dari jamaah, mulai dari mengeluh hingga mencari alternatif kreatif.
Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa kenaikan harga disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain tingginya biaya pakan akibat inflasi global, distribusi hewan yang terhambat, serta meningkatnya permintaan menjelang Idul Adha. Faktor cuaca yang memengaruhi ketersediaan rumput dan hijauan juga menjadi penyebab utama.
Seorang pedagang hewan kurban di Bekasi, Ahmad (50), mengatakan kepada IFA.id, "Harga naik karena pakan juga mahal. Kami harus membeli jagung, dedak, dan vitamin dengan harga lebih tinggi dari tahun lalu."
Baca Juga: Ketika Hati Gelisah, Bacalah Doa Syukur Nikmat Ini
Kenaikan harga ini disikapi berbeda oleh masyarakat. Di Jakarta, sebagian jamaah memilih untuk berkurban bersama melalui sistem patungan. Satu ekor sapi bisa ditanggung tujuh orang sesuai syariat, sehingga beban biaya terasa lebih ringan.
Di Surabaya, sejumlah warga memanfaatkan platform kurban digital yang menawarkan harga lebih kompetitif karena membeli langsung dari peternak. Sedangkan di desa-desa Jawa Tengah, tradisi gotong royong semakin terasa, di mana warga menabung bersama sejak jauh-jauh hari untuk menghadapi momen ini.
Fenomena kurban digital yang semakin populer juga menjadi solusi di tengah kenaikan harga. Melalui aplikasi, jamaah dapat memilih hewan kurban sesuai anggaran dan lokasi distribusi. Hewan akan disalurkan ke daerah yang membutuhkan, terutama pelosok Indonesia Timur.
Seorang pengguna aplikasi kurban digital di Bandung, Siti (34), menuturkan, "Dengan sistem online, saya bisa tetap berkurban meski harga naik. Pembagian daging juga lebih merata karena langsung dikirim ke wilayah yang jarang mendapat hewan kurban."
Baca Juga: Doa Syukur Nikmat: Kunci Bahagia Sejati
Di sisi lain, kenaikan harga hewan kurban memberikan dampak positif bagi peternak. Pendapatan mereka meningkat, meski beban biaya produksi juga lebih besar. Menurut Asosiasi Peternak Sapi Indonesia, tahun ini potensi perputaran ekonomi dari kurban bisa mencapai lebih dari Rp 80 triliun.
"Kami bersyukur harga naik, tapi tetap berharap ada subsidi pakan dari pemerintah agar tidak terlalu memberatkan konsumen," ujar Sulaiman, peternak sapi asal Boyolali.
IFA.id mencatat, meski harga hewan kurban naik, semangat jamaah untuk beribadah tidak surut. Di banyak tempat, masyarakat semakin kompak untuk saling membantu. Ada yang rela menambah iuran, ada pula yang membuka arisan kurban, sebuah tradisi baru di beberapa komunitas Muslim perkotaan.
Di Makassar, arisan kurban bahkan menjadi tren. Setiap bulan, anggota komunitas iuran, dan menjelang Idul Adha dana terkumpul digunakan untuk membeli hewan kurban atas nama kelompok. Dengan begitu, semua bisa ikut merasakan keberkahan.Para ulama mengingatkan bahwa hakikat kurban bukan hanya pada besar kecilnya hewan, melainkan pada keikhlasan dan niat. Ustaz Farhan dari Pesantren Gontor menekankan, "Allah tidak melihat daging atau darahnya, tapi ketakwaan dari hamba-Nya. Jadi meski harga naik, jangan sampai semangat berkurban luntur."
Artikel Terkait
Inovasi Teknologi yang Tetap Berlandaskan Syariah
Cara Startup Islami Membangun Ekosistem Bisnis Berkeadilan
Masa Depan Startup Islami: Tren, Peluang, dan Tantangan
Pinjam Uang Syariah: Solusi Tanpa Riba
Pinjam Uang di Era Digital, Tetap Syariah Mungkin?