IFA.id -- Nilai tukar rupiah mengalami tekanan signifikan pada awal perdagangan pasca-Libur Lebaran, Senin (7/4).
Di pasar non-deliverable forward (NDF), rupiah sempat menyentuh level Rp17.200 per dolar Amerika Serikat (AS), mendekati titik resistance yang sebelumnya diproyeksikan oleh Astronacci International.
Gema Goeyardi, Founder & CEO Astronacci, telah memperingatkan potensi pelemahan rupiah sejak pertengahan 2024.
Baca Juga: IHSG Anjlok 9,19% di Pembukaan, BEI Hentikan Perdagangan Sementara
Ia menyebut bahwa kombinasi melemahnya kondisi fundamental ekonomi Indonesia serta pola teknikal tertentu menjadi sinyal kuat pelemahan rupiah.
Salah satu pemicu utama pelemahan rupiah adalah kebijakan tarif impor sebesar 32% dari pemerintah AS terhadap sejumlah komoditas asal Indonesia.
Langkah tersebut merupakan bagian dari perang dagang lanjutan yang memperburuk sentimen pasar terhadap negara berkembang.
Gema menekankan bahwa pelemahan rupiah ini bukan hanya masalah teknikal, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor fundamental yang signifikan.
Baca Juga: Libur Lebaran, Ekspor Perikanan Indonesia Tembus Rp1 Triliun
Kebijakan tarif dari AS mendorong investor global untuk beralih ke aset safe haven seperti dolar AS, emas, dan obligasi pemerintah AS.
Astronacci telah memberikan peringatan dan membantu pelaku pasar dalam mengantisipasi risiko melalui berbagai kanal edukasi.
Gema mengimbau masyarakat untuk tetap rasional dan fokus pada manajemen risiko, serta menunggu sinyal teknikal yang jelas sebelum mengambil keputusan investasi.
Artikel Terkait
Mantan Kapolsek Mulia Tewas Ditembak OTK di Papua, Peluru Tembus Pipi Hingga Leher
Plt Camat Nibung Hangus Ditangkap Saat Konsumsi Narkoba di Kisaran
Ekonomi Nasional Diuji, Pemerintah Fokus Jaga Stabilitas dan Daya Tahan
Libur Lebaran, Ekspor Perikanan Indonesia Tembus Rp1 Triliun
IHSG Anjlok 9,19% di Pembukaan, BEI Hentikan Perdagangan Sementara