Hukum Mengucapkan Salam dan Pentingnya Menjawab
Dalam Islam, mengucapkan salam hukumnya sunah. Namun menjawabnya adalah kewajiban. Hal ini memberi penekanan bahwa Islam memandang pentingnya menjaga hubungan sosial.
Baca Juga: Keutamaan Salam Menurut Hadis: Lebih Besar dari yang Dibayangkan
Ketika seseorang memberi salam, ia sedang mengulurkan tali persaudaraan. Menjawabnya bukan semata sopan santun, tetapi wujud penerimaan atas uluran tersebut.
Jawaban salam juga diatur dengan rapi. Jika seseorang berkata, “Assalamu’alaikum,” maka jawaban minimal adalah “Wa’alaikumussalam.” Lebih utama lagi ditambah dengan “warahmatullah,” atau “warahmatullahi wabarakatuh.”
IFA.id menilai tambahan doa ini bukan sekadar formalitas, tetapi bukti keinginan untuk membalas doa dengan yang lebih baik.
Sebuah hadis menegaskan hal ini, bahwa menjawab salam dengan lebih baik adalah tanda kesempurnaan adab. Salam bukan kompetisi, tetapi ajang memperluas kebaikan.
Baca Juga: Adab Mengucapkan Salam yang Sering Terabaikan
Mengapa Salam Begitu Dianjurkan?
IFA.id mencatat beberapa hikmah menarik dari salam yang sering luput dari perhatian.
Pertama, salam adalah penjernih suasana. Ketika seseorang memberi salam, ia datang dengan niat kedamaian. Ini menjadi pernyataan bahwa ia tidak membawa ancaman, baik dalam ucapan maupun tindakan.
Kedua, salam mempererat hubungan sosial. Saling mendoakan keselamatan adalah pondasi kebersamaan yang kuat. Di tengah ritme hidup yang cepat, salam mengingatkan bahwa manusia tetap membutuhkan hubungan yang ramah.
Ketiga, salam memulai interaksi dengan energi positif. Percakapan apa pun yang diawali dengan doa keselamatan tentu membawa nuansa yang baik.
IFA.id melihat bahwa inilah salah satu alasan Rasulullah sering mengajarkan para sahabat memberi salam bahkan kepada orang yang baru ditemui.
Baca Juga: Mengapa Salam Jadi Simbol Cinta dan Damai?