Menariknya, salam juga menjadi simbol bahwa Islam mengutamakan kedamaian sebelum percakapan apa pun dimulai. Tidak ada pembuka lain yang diperintahkan secara khusus oleh Rasulullah selain salam. Seluruh interaksi sebaiknya dibuka dengan harapan damai.
Sebuah adab sederhana, tetapi menopang kerangka besar peradaban.
Dari Rumah hingga Jalanan: Salam Menyatukan Ruang Publik
IFA.id pernah mengunjungi beberapa kampung santri di Jawa, dan satu tradisi menarik terlihat di sana. Setiap kali orang lewat, terutama anak-anak kecil, mereka tak pernah segan menebar salam pada siapa pun yang ditemui.
Baca Juga: Budaya Terima Kasih Mulai Luntur, Kiai Ingatkan Pesan Rasul
Rasanya seperti berada dalam ruang publik yang hangat. Tidak ada ketegangan, tidak ada kecurigaan, hanya ada pertukaran doa yang membuat ruang hidup terasa lembut.
Rasulullah mengajarkan hal ini jauh sebelum masyarakat modern memikirkan pentingnya “public civility”. Orang yang lewat hendaknya memberi salam kepada yang duduk.
Kelompok kecil memberi salam kepada kelompok besar. Yang muda mendahului yang tua. Semua terlihat sederhana, namun sangat dalam.
Salam membuat ruang sosial menjadi inklusif. Tidak peduli strata ekonomi, jabatan, atau asal-usul, semua menjadi sama dalam pertukaran doa keselamatan.
Baca Juga: Mengapa Islam Menekankan Terima Kasih? Ini Penjelasan Ahli
Dalam banyak catatan hadis, Nabi selalu membuka pembicaraan dengan salam, meski kepada orang yang belum dikenal. Bahkan, salam dianjurkan kepada orang yang dipandang rendah dalam struktur sosial zaman itu.
Salam memecah sekat. Salam membuka ruang bagi kemanusiaan.
Mengapa Salam Disebut Simbol Cinta?
Jika diperhatikan, salam tidak hanya membawa pesan damai. Ia membawa cinta. Cinta yang bersifat umum dan universal, bukan cinta romantis yang personal.
Cinta ini berbentuk kepedulian, dalam bahasa Arab disebut rahmah. Setiap kali seseorang mengucapkan salam, ia sedang berbagi cinta kepada lawan bicaranya. Cinta yang tidak mengharap balasan, cinta yang tidak menuntut syarat.