Kamis, 4 Juni 2026

Mengapa Salam Jadi Simbol Cinta dan Damai?

- Jumat, 28 November 2025 | 09:49 WIB
Salam bukan sekadar sapaan. Ia adalah doa keselamatan yang menyatukan hati dan menumbuhkan kedamaian dalam setiap perjumpaan. (Foto/Ilustrasi)
Salam bukan sekadar sapaan. Ia adalah doa keselamatan yang menyatukan hati dan menumbuhkan kedamaian dalam setiap perjumpaan. (Foto/Ilustrasi)

Dalam riwayat-riwayat sahih, salam disebut sebagai amalan yang dapat menumbuhkan cinta antar sesama. Rasulullah bersabda bahwa menebarkan salam adalah jalan agar manusia saling mencintai. Dan cinta itulah fondasi kedamaian. Tidak ada perdamaian tanpa kasih.

Baca Juga: Hadis Tentang Terima Kasih, Pengingat Sopan Santun Muslim

Ketika salam menjadi kebiasaan, ikatan sosial pun terbentuk. Avicenna, Ibn Arabi, hingga ulama kontemporer sering menekankan bahwa cinta sosial adalah komponen fundamental dari Islam. Salam menjadi simbol paling mudah dan paling ringan untuk menyalakan api cinta ini.

IFA.id melihat fenomena ini dalam kehidupan modern. Di tengah dunia digital yang penuh sarkasme, salam menjadi kontras yang menenangkan.

Saat pesan pertama yang tiba adalah “Assalamu’alaikum”, percakapan terasa berubah arahnya. Atmosfernya lebih hangat, lebih manusiawi. Salam membuat komunikasi tidak terasa kering.

Salam sebagai Janji Keamanan

Dalam kajian tafsir, salam juga dipahami sebagai deklarasi keamanan. Orang yang mengucapkan salam sedang menyampaikan pesan bahwa dirinya tidak membawa ancaman.

Baca Juga: Peneliti Ungkap: Ucapan Terima Kasih Perkuat Ukhuwah Umat

Sebuah janji bahwa yang hadir di hadapan kita adalah orang baik, tidak membawa keburukan, tidak membawa niat jahat.

Konsep ini begitu penting dalam konteks masyarakat yang masih sering dipenuhi prasangka. Salam menghapus jarak, karena siapa pun yang memberi salam pada dasarnya sedang menyatakan: “Aku ingin membawa kebaikan.”

Rasulullah pernah ditanya seorang sahabat, amalan mana yang terbaik dalam Islam. Salah satu jawabannya adalah: “Memberi makan dan menyebarkan salam.”

Jawaban ini memperlihatkan bahwa keamanan sosial bukan dibangun oleh strategi politik tingkat tinggi, melainkan oleh kebiasaan kecil yang terus diulang.

Baca Juga: Adab Mengucap Terima Kasih, Tradisi Kecil yang Dijunjung Nabi

Ketika Salam Mulai Ditinggalkan

Namun, ada kenyataan yang tidak bisa dihindari. Dalam kehidupan modern, salam sering tergantikan oleh sapaan lain. Di kantor, orang lebih sering menyapa dengan “pagi”, di mal dengan “halo”, di ruang digital dengan “hai”.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Terpopuler

X