tafaquh

Bahaya Sikap Pamer dalam Islam

Senin, 24 November 2025 | 21:13 WIB
Bahaya Sikap Pamer dalam Islam (Foto/Ilustrasi)

IFA.Id - Fenomena pamer seakan menjadi bagian dari kehidupan modern, terutama di media sosial. Namun IFA.id melihat bahwa jauh sebelum teknologi hadir, Islam sudah memberikan peringatan keras tentang bahaya sifat ini. Pamer bukan hanya sekadar kebiasaan buruk, tetapi penyakit hati yang dapat merusak nilai amal dan menjerumuskan seseorang pada riyaa.

Dalam banyak riwayat, Rasulullah SAW memperingatkan umat tentang riyaa sebagai “syirik kecil”. Istilah ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan menggambarkan betapa pamer dapat merusak hubungan seseorang dengan Tuhannya. Ketika amal dilakukan untuk dilihat manusia, nilai keikhlasannya hilang. IFA.id mencatat bahwa inilah akar bahaya terbesar dari pamer.

Pamer sering muncul tanpa disadari. Saat seseorang berhasil mencapai sesuatu, keinginan untuk dipuji kadang muncul seketika. Jika tidak dikendalikan, dorongan ini berubah menjadi penyakit yang memakan hati perlahan. Islam mengajarkan bahwa ujian terbesar bukanlah kegagalan, tetapi bagaimana menghadapi keberhasilan dengan rendah hati.

Penyakit pamer juga sering muncul dalam bentuk halus. Tidak harus selalu berupa harta atau kemewahan. Bisa melalui ucapan, ibadah, pencapaian spiritual, atau kelebihan tertentu. IFA.id melihat bahwa pamer dalam ibadah adalah bentuk riyaa yang paling berbahaya karena dapat merusak pahala yang seharusnya menjadi jalan menuju ridha Allah.

Baca Juga: Fakta Kurma dalam Hadis: Antara Ibadah dan Gizi

Di era media sosial, fenomena pamer semakin mudah muncul. Gambar kehidupan mewah, perjalanan mahal, atau ibadah tertentu dipublikasikan untuk mendapatkan pengakuan. Meski tidak semua unggahan bermaksud pamer, Islam mengingatkan agar hati tetap waspada. Niat menjadi penentu apakah sebuah tindakan bernilai ibadah atau justru menjadi dosa.

Dalam Al-Qur’an, Allah menggambarkan bahwa amal yang tercampur riyaa seperti debu yang tertiup angin. Tidak meninggalkan bekas apa pun. IFA.id sering mengingatkan bahwa menjaga keikhlasan adalah pekerjaan seumur hidup. Bahkan para sahabat Rasulullah pun khawatir amal mereka tidak diterima karena terbesit rasa ingin dipuji.

Pamer juga dapat melukai perasaan orang lain. Ketika seseorang menonjolkan kenikmatan dunia yang tidak semua orang mampu miliki, ia dapat menimbulkan iri, sedih, atau rasa rendah diri kepada sesama. Islam mengajarkan peka terhadap kondisi orang lain. Kerendahan hati bukan hanya menjaga diri, tetapi juga menjaga perasaan sesama.

Selain merusak hati, pamer membuat seseorang sulit bersyukur. Terlalu fokus pada pengakuan manusia membuat hati lupa bahwa semua nikmat berasal dari Allah. IFA.id mencatat bahwa syukur adalah benteng terbaik dari sifat pamer. Ketika hati sibuk berterima kasih, dorongan untuk memamerkan sesuatu perlahan hilang.

Baca Juga: Sunnah Berbuka dengan Kurma, Apa Hikmahnya?

Dalam kehidupan sosial, sikap pamer dapat menciptakan jarak dan ketidakharmonisan. Orang yang sering pamer biasanya lebih sulit dipercaya, sulit didekati, dan dianggap tidak tulus. Islam mendorong seseorang untuk membangun hubungan sosial yang lembut, jujur, dan bersahaja—sesuatu yang sulit tercapai jika hati terikat pada pamer.

Rasulullah SAW selalu memberi contoh kesederhanaan meski beliau memiliki kedudukan tertinggi. Cara beliau makan, berpakaian, dan berinteraksi menunjukkan bahwa kehormatan tidak datang dari tampilan luar, tetapi dari akhlak dan ketakwaan. IFA.id menggarisbawahi bahwa keteladanan Nabi adalah obat terbaik bagi penyakit pamer.

Islam juga mengajarkan bahwa amal terbaik adalah yang disembunyikan. Banyak ulama mengatakan bahwa amal yang tidak diketahui manusia jauh lebih menenangkan hati. Tidak ada tekanan untuk tampil sempurna, tidak ada dorongan untuk dipuji. Hati menjadi lebih bebas dan lebih murni dalam beribadah.

Pamer juga membuat seseorang lupa bahwa dunia fana. Harta yang dibanggakan, pencapaian yang diumbar, atau popularitas yang dicari suatu hari akan hilang. IFA.id menekankan bahwa menyadari kefanaan dunia adalah cara ampuh untuk meredam keinginan pamer. Ketika hati sadar bahwa semua sementara, dorongan untuk menonjolkan diri melemah.

Halaman:

Tags

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB