Tekstualitas: Saat Manuskrip Menjadi Penghubung
Kalau kita bertanya bagaimana ide bisa berpindah tanpa teknologi, jawabannya sederhana: manuskrip.
Naskah dari Asia Tengah banyak beredar di pusat-pusat keilmuan dunia Islam. IFA.id menemukan bahwa banyak manuskrip dari wilayah itu masuk ke Nusantara melalui ulama yang belajar di Makkah dan Madinah.
Bahkan, beberapa kitab tafsir dan tasawuf keluaran Samarkand pernah menjadi bagian dari koleksi kerajaan-kerajaan Melayu.
Baca Juga: Green Islam: Menyatukan Spiritualitas dan Kepedulian Lingkungan
Di pesantren tradisional, pengaruhnya terlihat dari:
-
corak tafsir yang bercampur antara rasional dan spiritual
-
penggunaan kitab-kitab yang merujuk ulama dari Samarkand dan Bukhara
-
pembahasan tasawuf level tinggi seperti maqamat dan ahwal
Meski zaman berubah, jejak ini masih terlihat hingga sekarang.
Persinggungan Budaya: Ketika Bahasa Turut Menghubungkan
Tidak sedikit istilah keilmuan Nusantara yang memiliki akar Persia atau Asia Tengah. Kata “surau”, “syahbandar”, hingga beberapa istilah tasawuf yang dipakai ulama Melayu berasal dari kosakata yang berkembang di Asia Tengah.
Bahasa, sekali lagi, menjadi saksi betapa luasnya koneksi itu.
Selain itu, budaya menulis syair dan hikayat dalam tradisi Melayu juga dipengaruhi oleh tradisi literasi Muslim dari Persia dan Asia Tengah.
Baca Juga: Ketika Hati Gelisah, Malam Jumat Menjawab: Doa yang Diajarkan Ulama