IFA.id - Pernahkah ada momen ketika seseorang tampak sangat pintar, tapi ilmunya tidak menenangkan?
IFA.id mencatat, di tengah derasnya arus informasi hari ini, semakin banyak yang tahu banyak hal, namun sedikit yang benar-benar berilmu. Apa yang hilang dari proses belajar zaman ini? Jawabannya mungkin satu: adab.
Belajar Itu Ibadah, Bukan Kompetisi
Dalam pandangan Islam, menuntut ilmu bukanlah sekadar kegiatan intelektual, melainkan ibadah yang bernilai pahala. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Baca Juga: Adab Menuju Masjid di Hari Jumat: Langkah Kecil yang Bernilai Besar di Sisi Allah
Namun, ibadah tidak hanya ditentukan oleh amal lahir, tapi juga niat dan adab. Sebelum membuka buku, sebelum menonton video kajian, bahkan sebelum bertanya pada guru — adab adalah pondasi. Tanpa adab, ilmu bisa menjadi beban; dengan adab, ilmu berubah jadi cahaya.
IFA.id melansir dari berbagai kitab klasik seperti Ta’lim al-Muta’allim, para ulama menegaskan: “Adab lebih tinggi dari ilmu.”
Mengapa demikian? Karena adab adalah pintu bagi ilmu agar menembus hati, bukan hanya otak. Ilmu tanpa adab ibarat air tanpa wadah tumpah dan tak memberi manfaat.
Ketika Dunia Menyembah Cepat
Zaman ini mencintai yang serba instan: belajar lewat video singkat, baca ringkasan, serap secepat mungkin. Tapi dalam kecepatan itu, banyak yang kehilangan keteduhan ilmu.
Baca Juga: Belajar Tak Sekadar Cerdas: Ilmu yang Mendekatkan pada Sang Pencipta
Belajar bukanlah lomba kecepatan. Ia adalah perjalanan spiritual. Ada adab untuk menunggu, mendengarkan, mencatat, dan merenung.
Imam Malik, salah satu ulama besar Madinah, pernah menolak menjawab pertanyaan seorang murid yang datang tanpa sopan santun.
Ia berkata, “Belum pantas engkau menerima ilmu, karena belum kau jaga adab.” Dari sini kita belajar bahwa dalam tradisi Islam, ilmu bukan semata soal kepintaran, tapi juga kehalusan hati.